Minggu, 19 April 2026

Opini

Opini: Dunia yang Kehilangan Tatanan

Perubahan sejati berawal dari penataan kembali cinta: apa yang dianggap bernilai, dan bagaimana menempatkannya. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HANDRI EDIKTUS
Handri Ediktus 

Dalam De Civitate Dei, ia menegaskan bahwa dua “kota” dibangun oleh dua cinta: cinta diri yang melupakan Allah, dan cinta kepada Allah yang menata segalanya secara benar (De Civitate Dei, XIV.28). 

Artinya, kejahatan bukan pertama-tama soal tindakan, tetapi soal orientasi. Ketika cinta kehilangan tatanannya, seluruh kehidupan ikut kehilangan arah.

Dalam konteks Indonesia, gejala ini tampak nyata. Kekuasaan lebih dicintai daripada kebenaran, popularitas lebih diutamakan daripada kejujuran, dan kepentingan diri lebih diprioritaskan daripada kebaikan bersama. 

Dalam situasi ini, penyimpangan bukan lagi anomali, melainkan konsekuensi logis. 

Ordo amoris juga menjelaskan mengapa krisis tetap bertahan meski regulasi diperkuat. Aturan dapat mengatur tindakan, tetapi tidak otomatis menata cinta. 

Selama orientasi batin tidak berubah, manusia akan selalu menemukan cara untuk membenarkan tindakannya. Dengan demikian, krisis moral kita adalah ekspresi dari tatanan cinta yang rusak. 

Ketika manusia tidak lagi mencintai yang benar secara benar, ia tidak akan mampu bertindak secara benar.

Memulihkan Tatanan: Dari Regulasi ke Transformasi

Jika akar krisis terletak pada rusaknya ordo amoris, maka solusi tidak bisa berhenti pada regulasi. 

Pengetatan hukum penting, tetapi tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pemulihan tatanan bukan hanya sosial, tetapi juga batin. 

Perubahan sejati berawal dari penataan kembali cinta: apa yang dianggap bernilai, dan bagaimana menempatkannya. 

Karena itu, pendidikan harus melampaui transfer pengetahuan dan masuk ke pembentukan karakter. 

Ruang digital perlu direbut kembali sebagai ruang dialog yang berorientasi pada kebenaran.

Namun pada akhirnya, perubahan bergantung pada kesadaran personal. Setiap individu dipanggil untuk menata kembali apa yang ia cintai. Dari situlah tindakan bermula dan arah hidup ditentukan. 

Di sinilah letak kebaruan pendekatan ini: krisis sosial tidak lagi dilihat sebagai masalah eksternal semata, tetapi sebagai cerminan dari tatanan batin yang perlu dipulihkan. 

Pada akhirnya, dunia tidak runtuh karena kejahatan terlalu kuat, tetapi karena kebaikan tidak lagi diberi tempat. Dan selama manusia gagal menata cintanya, krisis akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved