Opini
Opini: Dunia yang Kehilangan Tatanan
Perubahan sejati berawal dari penataan kembali cinta: apa yang dianggap bernilai, dan bagaimana menempatkannya.
Di sisi lain, kasus kekerasan seksual yang terus berulang menunjukkan kegagalan dalam melindungi martabat manusia, terutama kelompok rentan.
Praktik korupsi pun tetap bertahan sebagai penyakit kronis yang merusak kepercayaan publik.
Namun, melihat semua ini sebagai “banyaknya kejahatan” berisiko menyesatkan. Pendekatan ini hanya berhenti pada level simptomatik seolah masalah terletak pada individu-individu yang “buruk” tanpa menyentuh kerangka nilai yang lebih dalam.
Yang kita hadapi sesungguhnya adalah krisis makna: cara kita memahami kebenaran, keadilan, dan kebaikan mulai retak.
Ketika kerangka ini goyah, tindakan menyimpang bukan lagi penyimpangan yang mengejutkan, melainkan konsekuensi yang hampir tak terhindarkan.
Membaca Ulang Realitas: Dari Kejahatan ke Ketiadaan Kebaikan
Di titik ini, pemikiran Agustinus menawarkan sudut pandang yang radikal. Ia menolak memahami kejahatan sebagai sesuatu yang memiliki keberadaan tersendiri. Baginya, kejahatan adalah privatio boni ketiadaan kebaikan.
Gagasan ini tidak lahir dalam ruang kosong. Filsuf pra-Sokrates seperti Heraclitus telah berbicara tentang logos sebagai prinsip rasional yang menata kosmos, sementara Pythagoras melihat realitas sebagai harmoni yang teratur.
Dalam tradisi ini, dunia dipahami sebagai keteraturan, bukan kekacauan.
Agustinus mengembangkan intuisi tersebut dalam horizon teologis: kosmos bukan hanya tatanan alam, tetapi juga tatanan moral.
Karena itu, kejahatan bukan bagian dari tatanan, melainkan keretakan di dalamnya ketiadaan kebaikan yang seharusnya menjaga harmoni.
Implikasinya jelas dalam konteks Indonesia. Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi tanda retaknya keadilan.
Hoaks bukan hanya kebohongan, tetapi gejala terganggunya komitmen pada kebenaran.
Kekerasan seksual bukan sekadar kriminalitas, melainkan runtuhnya penghormatan terhadap martabat manusia.
Dengan demikian, krisis kita bukan karena kejahatan semakin kuat, tetapi karena kebaikan semakin melemah. Yang kita hadapi bukan keberlimpahan kejahatan, melainkan kekosongan kebaikan.
Ordo Amoris: Akar Terdalam Krisis
Pada titik terdalam, Agustinus melihat bahwa krisis manusia tidak pertama-tama terletak pada tindakan, melainkan pada apa yang ia cintai. Ia menyebutnya ordo amoris—tatanan cinta.
Dalam Confessiones, Agustinus menggambarkan dosa sebagai amor inordinatus cinta yang tidak teratur (Confessiones, II.6; XIII.9).
Handri Ediktus
tatanan dunia
Opini Pos Kupang
berantas hoaks
hoaks
Meaningful
Nusa Tenggara Timur
Agustinus
| Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan |
|
|---|
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
| Opini - Suanggi Dalam Pertarungan Pengetahuan: Antara Keyakinan Lokal dan Rasionalitas Moderen NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Handri-Ediktus1.jpg)