Jumat, 17 April 2026

Opini

Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan

Di Indonesia, fenomena ini sering dibungkus dengan istilah sensasional—Godzilla, seolah ancaman harus diperbesar agar dipercaya. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Sejarah memberikan pelajaran yang jelas. El Nino 1997–1998 menyebabkan penurunan produksi pangan dan krisis ekonomi di Indonesia. El Nino 2015–2016 memicu kebakaran hutan besar dan kabut asap lintas negara. 

Bahkan secara global, lebih dari 60 juta orang terdampak ketidakamanan pangan akibat fenomena ini. 

Dengan kata lain, El Nino bukan peristiwa baru. Yang baru adalah seberapa siap kita menghadapinya.

Arah Kebijakan

Untuk keluar dari jebakan ini, diperlukan pergeseran mendasar. Pertama, kebijakan harus berbasis kerentanan spesifik. Data iklim harus dipadukan dengan data kemiskinan, akses air, dan struktur penghidupan.

Kedua, pemerintah harus bergerak dari early warning menuju early livelihood protection. Peringatan dini harus memicu tindakan sebelum krisis terjadi, bukan setelah dampak meluas.

Ketiga, pendekatan harus lintas sektor. Kekeringan menyentuh pangan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan sekaligus.

Keempat, masyarakat harus menjadi bagian dari solusi. Pengetahuan lokal tentang air dan musim adalah modal yang tidak bisa digantikan oleh data teknis semata.

Pada akhirnya, El Nino 2026 bukan sekadar fenomena iklim. Ia adalah ujian bagi negara: apakah mampu membaca risiko secara utuh, atau kembali terjebak dalam ilusi bahwa data dan infrastruktur sudah cukup.

Sebab yang paling berbahaya dari musim kering bukan hanya langit yang tak lagi menurunkan hujan, tetapi kebijakan yang gagal memahami siapa yang paling dulu kehilangan kehidupan. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved