Kamis, 16 April 2026

Opini

Opini: Tambal Jalan, Co-Production dan Civic Partnership 

Sejumlah pemuda lintas profesi bergerak secara spontan menambal jalan rusak di berbagai titik kota dengan dana swadaya.

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Padahal, dalam studi tata kelola, kepercayaan adalah fondasi utama kolaborasi. Tanpa kepercayaan, partisipasi selalu dicurigai. 

Tanpa partisipasi, pemerintah kehilangan informasi lapangan yang sangat penting.

Karena itu, pemerintah tidak perlu defensif. Sikap yang lebih bijak adalah merangkul, mengapresiasi kepedulian warga, menjelaskan status penanganan ruas-ruas jalan secara terbuka, mempercepat respons pada titik rawan kecelakaan, dan membangun kanal pelaporan yang transparan. 

Sebaliknya, masyarakat juga perlu diajak memahami bahwa pembangunan tidak selalu dapat bergerak secepat ekspektasi publik karena ada prosedur hukum, teknis, dan anggaran yang harus dijaga. Kesadaran timbal balik inilah yang membedakan kemitraan dari konfrontasi.

Menuju Model Kemitraan Kota

Fenomena ini pada akhirnya membuka peluang untuk membangun model kemitraan kota yang lebih matang. 

Pemerintah Kota Kupang dapat menginisiasi forum civic partnership yang melibatkan komunitas pemuda, RT/RW, akademisi, dan DPRD dalam pemantauan infrastruktur dasar. 

Pendekatan ini tidak hanya memperkuat akuntabilitas, tetapi juga meningkatkan kualitas kebijakan berbasis informasi lapangan.

Selain itu, perlu dilakukan penguatan pada aspek pemeliharaan preventif, audit kualitas proyek jalan, serta integrasi antara pembangunan jalan dan sistem drainase. 

Tanpa itu, siklus kerusakan akan terus berulang, dan energi warga akan habis pada solusi jangka pendek.

Pada titik ini, kita perlu jujur bahwa fenomena warga menambal jalan bisa dibaca sebagai kritik. Namun lebih dari itu, ia adalah undangan. Undangan bagi pemerintah untuk membuka ruang kolaborasi. 

Undangan bagi masyarakat untuk terlibat secara konstruktif. Dan undangan bagi kita semua untuk membangun kota tidak hanya dengan anggaran, tetapi juga dengan rasa memiliki.

Kupang sedang menunjukkan sesuatu yang penting. Di tengah keterbatasan, masih ada warga yang bergerak. 

Tugas pemerintah bukan menahan gerakan itu, melainkan mengarahkannya. Dan tugas masyarakat bukan menggantikan negara, tetapi menjadi mitra yang kritis sekaligus konstruktif. 

Di situlah sebuah kota tidak hanya diperbaiki jalannya, tetapi juga diperkuat jiwanya. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved