Senin, 25 Mei 2026

Opini

Opini: Menghormati Bunda Maria

Martabat sebagai ibu Tuhan diberikan oleh Tuhan sendiri (Bdk. Lukas 1:38). Tanpa itu tidak ada cerita lebih lanjut. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI BENI WEGO
Beni Wego 

Oleh: Beni Wego, SVD
Misionaris SVD, tinggal dan kerja di Amerika Serikat.

POS-KUPANG.COM - Seorang ibu patut dihormati. Maria dihormati karena martabat (dignity) sebagai ibu dan Ibu Tuhan. Martabat itu tidak bisa diambil atau ditransfer kepada siapapun dan dalam bentuk apapun. 

Martabat sebagai ibu Tuhan diberikan oleh Tuhan sendiri (Bdk. Lukas 1:38). Tanpa itu tidak ada cerita lebih lanjut. 

Allah tentu bisa memilih wanita atau ibu lain. Kemungkinan itu justru menjadikan bunda Maria sebagai ibu Tuhan yang istimewa. 

Maria juga tidak lebih dahulu diberitahu dan mengetahui peristiwa (event) yang akan terjadi dengan dirinya. Ia akan menjadi ibu Yesus, ibu Tuhan. 

Baca juga: ANKER: Meriahkan Festival Golo Curu Bunda Maria Ratu Rosari di Ruteng

Dalam konteks itu ia harus dimengerti dan diterima secara khusus sebagai Bunda Tuhan yang dihormati oleh Allah sendiri. 

Menyusul alasan historis. Ia menjadi Bunda Tuhan yang dinobatkan oleh Allah. Ia menerima itu dengan iman dalam waktu dan tempat. Peristiwa yang terjadi secara terbuka bukan tersembunyi apalagi dipaksakan. 

Pantaskah manusia menolak rahmat karunia (favor) oleh Allah? (bdk. Lukas 1:30). 

Penginjil Lukas menulis juga bahwa Santa Elisabeth menyapanya sebagai Ibu Tuhan. (Bdk. Lukas 1:43). Elisabeth adalah seorang ibu yang sederhana dan memiliki kapasitas religius yang bersahaja. Ia melihat martabat Maria yang sekaligus menujum kepada Tuhan. 

Oleh sebab itu Bunda Maria melampaui segala deskripsi dan pengertian (de mariam numquam satis). Bahkan karena Yesus, ia berani mengambil risiko, menempuh jalan radikal yakni menerima tugas dan peranan sebagai Ibu Tuhan. 

Ia menantang zona nyaman dalam dunia yang menolak transformasi, meski rapuh, fabrikasi atau pemalsuan (fake) dan scapegoating. 

Maria memberi makna atas kehidupan dengan memagari Rahmat Tuhan yang diberikan secara gratis (Gratia) dari kecongkakan dunia dan banjir inflasi makna oleh kekuasaan.  

Untuk itu ia menanggalkan kebebasannya secara mutlak. Ia rebah, senantiasa berlutut dan mengosongkan diri (kenosis) karena Putera Allah dan puteranya. 

Sejarah Maria dengan itu terjadi bukan secara tiba-tiba dan kebetulan apalagi direncanakan untuk viral. Ia tidak hendak mengejutkan dunia pula. 

Sebaliknya dunia terkejut karena hal itu bisa terjadi bagi manusia yang memiliki kemampuan dan kemauan yang terbatas.  

Baca juga: Opini: Menakar Krisis Iklim Kemarau Ekstrem dan Gejolak Vulkanik Lewotobi Laki-laki 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved