Breaking News
Rabu, 6 Mei 2026

Opini

Opini: Di Antara Nyepi dan Idulfitri- Menguji Wajah Toleransi dalam Religiusitas NTT

Apakah membuka jalan bagi perayaan agama lain atau saling mengucapkan selamat sudah cukup untuk disebut toleransi? 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI KRISTIANUS JEHAMIT
Kristianus Jehamit 

Toleransi sejati menuntut keterlibatan aktif yaitu kesediaan untuk memahami yang lain dalam perbedaannya, membuka ruang dialog yang jujur, dan bahkan mengoreksi cara kita menghidupi iman jika  ternyata ia melahirkan sikap eksklusif. 

Dengan demikian, toleransi bukan sekadar sikap sosial, tetapi praksis teologis.

Di titik ini, religiusitas menghadapi ujian eksistensialnya yang paling mendasar. 

Apakah ia menjadi jalan pembebasan yang memanusiakan, merangkul perbedaan, dan membangun solidaritas lintas identitas? 

Ataukah ia justru menjadi alat legitimasi identitas yang secara halus membangun batas-batas kaku antara “kita” dan “mereka”? 

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara abstrak , tetapi  harus dilihat dalam praktik sehari-hari, yaitu dalam cara kita berbicara tentang yang lain, dalam sikap kita terhadap perbedaan, dan dalam keberanian kita untuk melampaui zona nyaman identitas.

Realitas sosial di NTT tidak sepenuhnya steril  dari potensi konflik berbasis identitas. 

Politik identitas, dalam banyak kasus, dengan mudah memanfaatkan simbol-simbol religius untuk kepentingan kekuasaan. 

Dalam situasi seperti ini, agama kehilangan dimensi profetisnya dan berubah menjadi alat mobilisasi massa. 

Toleransi pun direduksi menjadi retorika publik yang kehilangan daya transformasinya. 

Ia dirayakan di permukaan, dalam slogan, seremoni dan narasi  resmi, tetapi rapuh di akar, kearena tidak dibangun di atas kesadaran kritis dan komitmen etis yang mendalam.

Di sinilah peran teologi kontekstual menjadi krusial dan tidak tergantikan. Ia tidak hanya menafsirkan iman dalam bahasa  yang relevan, tetapi juga mengkritisi praksis sosial yang menyertainya. 

Dalam terang ini, Nyepi dan Idulfitri tidak boleh berhenti sebagai perayaan ritual yang berulang setiap tahun, tetapi harus menjadi momen profetis yang menggugat, menginterupsi dan mentransformasi cara kita memaknai serta menghidupi toleransi. 

Teologi harus berani bertanya: apakah perayaan ini benar-benar mengubah kita atau sekadar menghibur?

Keheningan Nyepi seharusnya menuntun kita untuk bertanya dengan jujur: sejauh mana kita telah memberi ruang bagi yang berbeda dalam hidup kita? 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved