Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Di Antara Nyepi dan Idulfitri- Menguji Wajah Toleransi dalam Religiusitas NTT

Apakah membuka jalan bagi perayaan agama lain atau saling mengucapkan selamat sudah cukup untuk disebut toleransi? 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI KRISTIANUS JEHAMIT
Kristianus Jehamit 

Oleh: Kristianus Jehamit
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Langit Nusa Tenggara Timur memasuki sebuah  jeda yang unik, sebuah ritme sosial  yang tidak hanya ditentukan oleh kalender, tetapi oleh kedalaman makna religius yang dihidupi masyarakat. 

Di satu sisi umat Hindu merayakan Nyepi dalam keheningan total, jalanan lengang, lampu dipadamkan, aktivitas dihentikan, seolah dunia diajak berhenti sejenak untuk bernapas dalam kesadaran yang lebih dalam. 

Keheningan itu bukan sekadar absennya suara, melainkan sebuah bahasa spiritual terhadap disisplin diri, pengendalian hasrat, dan penarikan diri dari hiruk-pikuk dunia. 

Baca juga: Opini: UU PPRT dan Ujian Keberpihakan Negara pada Kerja Domestik 

Tidak lama berselang, suasana berubah drastis, gema takbir menyambut Idulfitri, rumah-rumah terbuka, tangan-tangan saling berjabat, dan wajah-wajah berseri dalam semangat silaturahmi dan saling memaafkan. 

Dua perayaan ini yang hadir dalam kontras antara sunyi dan riuh bukan hanya pemandangan sosial-religius yang khas tetapi juga cermin dari wajah keberagaman yang hidup, bergerak dan terus dinegosiasikan.

Perayaan keagamaan selalu menghadirkan wajah paling nyata dari religiusitas manusia, karena di sanalah iman tidak lagi bersembunyi dalam konsep tetapi menjelma dalam tindakan konkret. 

Ia tampil sebagai bahasa eksistensial yang mengungkapkan relasi manusia dengan Yang Ilahi dan sesamanya. 

Dalam konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), momen perayaan Nyepi dan Idulfitri membuka ruang reflektif yang kaya, sebagai  suatu kesempatan untuk tidak hanya merayakan perbedaan, tetapi juga menilai kembali bagaimana toleransi benar-benar dijalankan. 

Apakah ia lahir dari kesadaran iman yang mendalam, ataukah hanya menjadi norma sosial yang diterima  tanpa refleksi? 

Di titik ini, religiusitas tidak lagi bisa dipahami secara privat melainkan sebagai kekuatan sosial yang membentuk cara hidup bersama.

Nyepi dengan keheningan totalnya, mengajak manusia masuk ke dalam dimensi kontemplatif yang seringkali terlupakan dalam kehidupan modern. 

Ia memanggil manusia untuk berhenti, menahan diri, merefleksikan eksistensi, dan menata kembali relasi dengan alam semesta. 

Keheningan ini bersifat radikal karena menuntut pelepasan dari ego dan keterikatan duniawi. 

Sebaliknya Idul Fitri hadir dalam nuansa komunal yang hangat dan  terbuka seperti silaturahmi, saling memaafkan dan mempererat solidaritas sosial. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved