Opini
Opini: Ilusi PAD dan Distorsi Akuntabilitas
Keadaan dimana target PAD terlihat besar secara nominal, tetapi tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya.
Oleh: Habde Adrianus Dami
Institut Kebijakan Publik dan Penganggaran (KUPANG Institut) Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Kemandirian fiskal ditandai dengan peningkatan porsi pendapatan asli daerah (PAD) terhadap pendapatan APBD.
Artinya, semakin tinggi porsi tersebut, maka semakin mandiri pendanaan pemerintah daerah. Dengan demikian, kesehatan fiskal tetap terjaga dari berbagai risiko, khususnya dari sisi penerimaan.
Karena itu, pemerintah provinsi NTT menetapkan target PAD 2026 sebesar Rp 2,8 triliun. Namun, hingga awal april 2026, capaian PAD baru 6,5 persen.
“Saya ingatkan bahwa jika target ini (PAD) tidak tercapai, maka tambahan penghasilan pegawai (TPP) terpaksa akan dikurang bahkan bisa dihapus” ujar Emanuel Melkiades Laka Lena, (Kompas.com 13/4/2026).
Baca juga: Opini: Momentum Audit dan Harapan Publik
Keadaan dimana target PAD terlihat besar secara nominal, tetapi tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya.
Kondisi ini sebagai ilusi PAD. Ilusi ini berbahaya bukan karena ia salah, tetapi karena ia setengah benar.
Lebih jauh, jika ilusi target PAD terus dipelihara, dan distorsi akuntabilitas terus dijalankan, maka tidak terjadi kemandirian fiskal.
Sebab, setiap ilusi memiliki harga dan dalam ekonomi harga itu jarang dibayar oleh sistem. Ia dibayar oleh rakyat.
Di sinilah letak kontroversial sekaligus dilematis. Apalagi, ada logika sederhana, tapi krusial: PAD turun berarti ASN tidak bekerja. Benarkah?
Tidak. Pemahaman ini justru keliru karena menempatkan PAD sebagai output kinerja ASN, padahal ia adalah outcome dari sistem ekonomi yang tidak sepenuhnya dikendalikan birokrasi.
Capaian yang jauh dari target tersebut justru menyingkap ilusi pertama: target PAD yang ditetapkan lebih berwatak politis ketimbang teknokratis.
Hal ini, juga mengonfirmasi adanya persoalan struktural dalam APBD NTT dan tentu berimbas pada kredibilitas fiskal dan reputasi Gubernur NTT.
Posisi PAD dan TPP
Dalam konteks pemerintah, istilah kinerja sering dikaitkan dengan persoalan anggaran (PAD). Dalam posisi ini, PAD NTT memang sedang diuji. Namun, jika ditelisik posisi PAD hubungannya dengan TPP dalam konteks politik, hukum dan ekonomi dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, posisi PAD dalam kerangka kewenangan. Secara normatif, PAD produk politik.
Opini Pos Kupang
Target PAD NTT
Habde Adrianus Dami
Opini Habde Adrianus Dami
Gubernur NTT Melki Lama Lena
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Refleksi Budaya Lokal NTT dalam Terang Kosmologi Aristoteles |
|
|---|
| Opini: Partisipasi Politik Anak Muda- Tantangan dan Peluang di Indonesia |
|
|---|
| Opini: Semau, Negara, dan Kekayaan yang Masih Tidur |
|
|---|
| Opini: Kerisauan Gubernur NTT dan Reformulasi Genta Belis |
|
|---|
| Opini: Insinyur Bukan Koruptor- Stop Kriminalisasi Kegagalan Konstruksi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pengamat-Kebijakan-Publik-Habde-Adrianus-Dami.jpg)