Opini
Opini: Semau, Negara, dan Kekayaan yang Masih Tidur
Kalau orang Kupang sedang duduk minum kopi sambil menatap laut, Semau sebenarnya ikut menatap balik dari seberang.
Oleh: Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang; Peminat Studi Kebijakan Sosial Kritis.
POS-KUPANG.COM - Pulau Semau bukan pulau jauh. Ia hanya dipisahkan laut pendek dari hiruk-pikuk Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur ( NTT).
Kalau orang Kupang sedang duduk minum kopi sambil menatap laut, Semau sebenarnya ikut menatap balik dari seberang.
Bedanya, Kupang sibuk dengan jalan, kantor, kampus, kafe, baliho, dan rapat pembangunan. Semau masih sering diperlakukan seperti halaman belakang; dekat di mata, tetapi jauh di kebijakan.
Secara administratif, Semau terdiri dari dua kecamatan, Kecamatan Semau dan Kecamatan Semau Selatan (BPS Kabupaten Kupang, 2024a; 2024b). Letaknya mepet dengan Kota Kupang.
Baca juga: Pulau Semau Diproyeksikan Jadi Destinasi Unggulan, Patung Kristus Hansisi Dibangun Maret 2026
Dalam bahasa pembangunan, ini disebut keunggulan lokasi. Dalam bahasa orang biasa, Semau itu “tinggal diseberangkan saja”. Tapi justru di situlah lucunya; yang dekat sering tidak benar-benar didekati. Yang potensial sering hanya disebut dalam pidato.
Kabupaten Kupang masih memikul beban kemiskinan yang tidak ringan. Sebanyak 20,32 persen penduduk miskin pada 2025 (BPS Provinsi NTT, 2025).
Di balik angka itu ada dapur yang berhitung sebelum api menyala, anak sekolah yang menimbang ongkos transportasi, petani yang menunggu hujan dengan wajah lebih serius daripada pejabat menunggu anggaran.
Karena itu, membicarakan Semau bukan soal pantai dan sunset untuk konten media sosial. Membicarakan Semau berarti membicarakan cara negara melihat aset rakyatnya sendiri.
Semau, atau Nusa Ana dalam sebutan warga setempat, bukan pulau kosong. Lahan pertanian masih luas, lautnya kaya, pantainya -terutama kawasan Pantai Liman- sudah cukup untuk membuat orang Kupang rela menyeberang hanya demi foto.
Budaya Helong masih hidup, bukan sekadar dipajang di brosur. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT bahkan menyebut Semau berpotensi besar jadi destinasi wisata unggulan (Dinas Parekraf NTT, 2026).
Semau bukan miskin aset. Yang miskin adalah kemauan untuk sungguh-sungguh mengurus aset itu sampai jadi kesejahteraan, bukan sekadar bahan pidato.
Di sinilah Hernando de Soto relevan. Dalam The Mystery of Capital, de Soto menjelaskan bahwa masyarakat miskin sering punya aset, tapi aset itu tidak bergerak karena tidak masuk sistem ekonomi yang memberi nilai tambah (de Soto, 2000).
Ada tanah, tapi tidak produktif. Ada pantai, tapi tidak menghidupi. Ada budaya, tapi tidak menjadi kekuatan. Aset seperti itu mirip sapi sehat yang hanya dipajang di halaman. Orang lewat kagum, pemiliknya tetap lapar.
Semau tidak boleh jadi museum potensi. Kata “potensi” sudah terlalu sering dipakai di NTT sampai kehilangan tenaga. Semua daerah disebut potensial. Semua pulau disebut indah. Setelah itu, selesai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Lazarus-Jehamat-TMMD-ke-120-di-Desa-Lentera-Bukti-TNI-Datang-untuk-Rakyat.jpg)