Opini
Opini: Di Antara Nyepi dan Idulfitri- Menguji Wajah Toleransi dalam Religiusitas NTT
Apakah membuka jalan bagi perayaan agama lain atau saling mengucapkan selamat sudah cukup untuk disebut toleransi?
Jika Nyepi adalah perjalanan ke dalam diri, maka Idulfitri adalah gerak keluar menuju sesama.
Namun di balik perbedaan ekspresi ini keduanya mengandung nilai fundamental yang sama tentang pemurnian diri dan rekonsiliasi.
Yang satu melalui keheningan, yang lain melalui relasi sehingga keduanya adalah jalan menuju kemanusiaan yang lebih utuh.
Namun di sinilah pertanyaan kritis muncul dan tidak bisa dihindari: apakah religiusitas yang dirayakan dalam dua momen ini benar-benar melahirkan toleransi yang kuat dan otentik?
Ataukah toleransi itu hanya berhenti pada level simbolik, yaitu sekadar gestur sosial yang indah di permukaan tetapi hampa di kedalaman?
Apakah membuka jalan bagi perayaan agama lain atau saling mengucapkan selamat sudah cukup untuk disebut toleransi?
Pertanyaan ini penting karena tanpa refleksi kritis, toleransi mudah direduksi menjadi formalitas sosial yang kehilangan dimensi etisnya.
Ia tampak hidup tetapi sebenarnya dangkal. Dalam perspektif teologi kontekstual iman tidak pernah berdirir di ruang hampa.
Ia selalu berakar dalam konteks sosial, budaya dan historis tertentu. Religiusitas di NTT, yang dikenal kuat, ekspresif, dan bukanlah identatif, seringkali dipuji sebagai contoh harmoni antarumat beragama.
Namun pujian ini perlu diuji secara kritis agar tidak jatuh dalam romantisme yang meninabobokan.
Sebab harmoni yang tidak pernah dipertanyakan berpotensi menjadi ilusi, meyembunyikan ketegangan, prasangka, atau bahkan eksklusivisme yang bekerja secara laten.
Dalam arti ini, teologi tidak boleh hanya menjadi legitimasi atas apa yang sudah ada, tetapi harus menjadi suara kritis yang membongkar apa yang tersembunyi.
Teologi kontekstual mengajak kita untuk membaca tanda-tanda zaman (signa temporum) dalam terang pengalaman konkret umat.
Ia tidak hanya bertanya tentang “apa yang diyakini?”, tetapi juga “bagaimana keyakinan itu dihidupi” dalam realitas sosial yang kompleks?”.
Dalam konteks Nyepi dan Idul Fitri, toleransi tidak cukup dipahami sebagai “tidak mengganggu” atau “saling menghormati” secara pasif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kristianus-Jehamit-03.jpg)