Cerpen
Cerpen: Rahim yang Terluka
Sejak hari itu ibu berubah. Matanya yang dulu penuh cerita kini menjadi datar, hanya mefokuskan pada kehidupan barunya.
Oleh: Boy Waro *
POS-KUPANG.COM - Untuk dia yang masih terluka baik-baik di sana. Hariku sepi tak seperti dulu lagi.
Sekarang aku sendiri entah mengapa bayangan itu selalu ada dalam pikiran ku.
Tak ada yang mengerti dengan keadaanku ini mungkin dia saja kembali tetapi entah kapan. Sekarang aku nyaman dimana pagiku ditemani secangkir kopi.
Lima belas tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menutup lubang di hati yang terluka, namun tidak cukup lama untuk melupakan kehangatan Ayah.
Kenangan tentang senyumannya adalah satu-satunya tiang yang menopangku di rumah kecil kami.
Ibu dan aku adalah dua wanita yang menyusun kembali hidup dari puing-puing, hanya kami berdua.
Setidaknya itulah yang kukira. Sampai sebuah cicin melingkar di jari ibu.
Baca juga: Cerpen: Cinta Dalam Sepi
Bukan kebahagiaan yang ia temukan. Itu adalah pengganti yang dingin, seorang laki-laki asing yang menutup ruang yang dulu dipenuhi kenangan ayah.
Sejak hari itu ibu berubah. Matanya yang dulu penuh cerita kini menjadi datar, hanya mefokuskan pada kehidupan barunya.
Aku menjadi bayangan di sudut rumah, aku diabaikan dan tidak ada cinta lagi antara aku dan ibu. Aku menjadi barang sisa yang perlu disingkirkan.
Ayah tiri. Kata itu terdengar seperti racun di telinga.
Awalnya tatapan tajam, lalu berantakan, kemudian sentuhan kasar. Rumah kami, yang dulunya tempat berlindung, kini berubah menjadi penjara berbau ancaman.
Ketika ibu pergi ke pasar atau sibuk hal lain, aku haru melewati lorong-lorong sunyi dengan napas tertahan, berharap tidak menarik perhatiannya.
Tubuhku perlahan menjadi kanvas luka memar, dan setiap rasa sakit itu adalah bukti nyata bahwa ibu telah menyerahkanku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-ibu-hamil-pixabaycom.jpg)