Cerpen
Cerpen: Cinta Dalam Sepi
Tidak perlu cemas pula meskipun rasa kadang lemot meninggalkan raga dan membiarkannya sendiri untuk menemukan kebahagiaan..
Oleh: Irenius Boko *
POS-KUPANG.COM - Beranjak dari letih menuju sepi yang sedih merupakan jalan penuh perih. Tidak begitu mudah karena memenjarakan raga dalam jeruji luka.
Juga tidak begitu susah, karena bangkit dan meninggalkan sepi merupakan cara yang apik memadamkan api dalam hati untuk orang yang sering menyakiti.
Sebab, tanya dan jawab merupakan dua hal yang berbeda tapi satu dalam percakapan sengit yang pernah ada ketika kita menemukan labirin dalam rasa.
Tidak perlu takut, lalu kecewa dan memaki kisah dan peristiwa. Bangsat! Mengapa bisa begini, begitu?
Menghampiri aku lagi. Tidak perlu cemas pula meskipun rasa kadang lemot meninggalkan raga dan membiarkannya sendiri untuk menemukan kebahagiaan yang baru.
Baca juga: Cerpen: Dua Garis Hidup
Pendusta dan pembohong terkadang terlihat bodoh dan memang bodoh. Mereka akan kembali datang dan merayu ketika kita sudah menemukan yang baru.
***
“Melangkahkan kaki dengan begitu tertatih? Apakah dia sedang menghitung berapa jumlah anak tangga itu?” tanyaku ketika melihat seorang perempuan yang bertubuh mungil itu menaiki anak tangga menuju Gua Maria yang tepat di samping pastoran.
Perempuan itu terlihat sangat lelah, tapi dia terus berusaha untuk menaiki anak tangga. Dan tinggal sepuluh anak tangga lagi, perempuan itu jatuh.
Beruntungnya dia dengan sigap menyandarkan badannya pada anak tangga. Karena merasa iba, aku memberanikan diri untuk menolongnya.
“Nona? Apakah kamu baik-baik saja?”
“Iya ka, aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah sehingga aku menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkannya”
“Serius? Atau kamu haus? Aku bisa membelikan air untukmu”
“Tidak perlu repot ka, aku tidak merasa haus”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-sepi.jpg)