Senin, 13 April 2026

Opini

Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir

Tekanan hidup, rasa gagal, kehilangan, dan kesepian yang menumpuk perlahan membentuk ruang gelap dalam diri seseorang. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa IFTK Ledalero, Maumere - Nusa Tenggara Timur

Catatan editor: Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.

POS-KUPANG.COM - Dalam beberapa waktu terakhir, berita tentang bunuh diri kembali muncul silih berganti. 

Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya di Jembatan Cangar, sebagaimana diberitakan Detik Jatim pada 8 April 2026. Di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, seorang pria juga dilaporkan meninggal karena bunuh diri pada Agustus 2025. 

Bahkan, pada Maret 2026, dua orang di wilayah Manggarai mengakhiri hidup mereka dalam rentang waktu yang berdekatan. 

Baca juga: Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur

Di tempat lain, seorang istri menemukan suaminya tewas gantung diri di halaman rumah mereka sendiri.

Rangkaian peristiwa ini bukan sekadar kabar duka yang datang dan pergi. Ia adalah tanda bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dalam cara kita memandang kehidupan, dan terutama, dalam cara kita memahami penderitaan sesama.

Data nasional memperkuat kegelisahan ini. Sepanjang tahun 2025, jumlah kasus bunuh diri di Indonesia dilaporkan mencapai 1.492 kasus. 

Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah kumpulan kisah hidup yang berakhir dalam kesunyian, yang mungkin tidak pernah benar-benar kita dengar.

Bunuh diri tidak pernah benar-benar datang secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari proses panjang yang sering luput dari perhatian. 

Tekanan hidup, rasa gagal, kehilangan, dan kesepian yang menumpuk perlahan membentuk ruang gelap dalam diri seseorang. 

Di dalam ruang itu, harapan bisa memudar tanpa disadari oleh siapa pun, bahkan oleh orang-orang terdekat.

Yang membuatnya semakin rumit, banyak dari mereka tampak “baik-baik saja” di permukaan. Mereka tetap tersenyum, bekerja, dan berinteraksi seperti biasa. 

Namun di balik itu, ada pergulatan batin yang tidak pernah terungkap. Kita hidup dalam budaya yang lebih menghargai tampilan luar daripada kedalaman batin. Kita melihat, tetapi tidak sungguh memahami.

Sosiolog Emile Durkheim pernah menjelaskan bahwa bunuh diri bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga fenomena sosial. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved