Sabtu, 9 Mei 2026

Opini

Opini: Busuk Tongkol Jagung

Tongkol tampak normal dari luar. Namun kerusakan berkembang di dalam. Saat panen tiba, hasil sudah menyusut.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Jagung bukan sekadar pangan alternatif setelah padi. Ia adalah fondasi industri pakan ternak dan bahan baku pangan olahan. Ia menopang ekonomi jutaan petani. 

Ketika produksinya terganggu, dampaknya cepat terasa. Harga telur dan daging ayam naik. Tekanan inflasi pangan meningkat. 

Karena itu, ancaman terhadap jagung bukan perkara sepele. Ia menyentuh dapur rumah tangga dan stabilitas nasional.

Salah satu ancaman yang kerap luput dari perhatian adalah busuk tongkol jagung

Penyakit ini menyerang bagian paling vital tanaman, yakni tongkol, tempat nilai panen ditentukan. 

Baca juga: Opini: Bukber versus MBG- Antara Gizi, Tradisi dan Nalar Negara 

Serangan biasanya terjadi saat pembungaan hingga pengisian biji. Pada awalnya gejala sering samar. 

Tongkol tampak normal dari luar. Namun kerusakan berkembang di dalam. Saat panen tiba, hasil sudah menyusut.

Secara ilmiah, penyakit ini banyak dipicu cendawan dari genus Fusarium, Aspergillus, dan Diplodia. 

Patogen berkembang dalam kondisi lembap dan sanitasi lahan buruk. Sisa tanaman terinfeksi menjadi sumber penularan. 

Lingkungan hangat dan basah mempercepat infeksi. Dampaknya bukan hanya menurunkan jumlah panen, tetapi juga mutu. 

Infeksi dapat menghasilkan mikotoksin berbahaya. Ancaman pun meluas dari persoalan produksi menjadi isu kesehatan publik.

Wajah Penyakit di Lapangan

Di lapangan, busuk tongkol tampak dari perubahan warna biji. Warna bisa kecokelatan, kemerahan, atau keabu-abuan. 

Pada infeksi berat, miselium jamur muncul seperti lapisan kapas tipis. Permukaan biji kusam dan rusak.

Petani sering baru menyadari serangan setelah panen. Tongkol dibuka, biji mengerut, sebagian rapuh, bahkan hancur. Pada tahap ini, kerugian sulit dihindari.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved