Opini
Opini: Busuk Tongkol Jagung
Tongkol tampak normal dari luar. Namun kerusakan berkembang di dalam. Saat panen tiba, hasil sudah menyusut.
Busuk tongkol jagung mengajarkan satu hal penting: ketahanan pangan bukan hanya soal luas tanam dan angka produksi. Ia juga soal kualitas, keamanan, dan keberlanjutan.
Produktivitas tinggi tanpa perlindungan mutu rapuh. Sekali terganggu, dampaknya luas. Ia menjalar dari lahan ke pasar, dari petani ke konsumen.
Ilmu pengetahuan harus diterjemahkan ke bahasa yang mudah dipahami. Riset tidak boleh berhenti di jurnal akademik. Ia harus hadir di sawah dan menjadi panduan praktik.
Kolaborasi antara peneliti, penyuluh, pemerintah daerah, dan pelaku industri pakan menjadi kunci. Kebijakan dan keputusan budidaya harus berbasis sains dan data.
Dengan kesadaran kolektif dan strategi terpadu, busuk tongkol dapat ditekan. Risiko bisa diminimalkan, keamanan pangan dijaga.
Produksi jagung yang tangguh bukan sekadar target ekonomi, tetapi fondasi kedaulatan pangan dan investasi jangka panjang bagi masa depan pertanian Indonesia. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)