Opini
Opini: TAMASYA- Jawaban atas Krisis Daycare
Saat ini, layanan daycare berada di bawah berbagai kementerian dan lembaga dengan standar yang berbeda-beda.
Oleh: Eduardus Johanes Sahagun, M.A
ASN Kemendukbangga/BKKBN Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Kasus kekerasan terhadap anak pada salah satu daycare di Yogyakarta beberapa waktu lalu bukan sekadar peristiwa kriminal biasa.
Ia adalah cermin dari masalah yang lebih dalam dan kompleks, yaitu rapuhnya sistem pengasuhan anak di luar keluarga.
Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan penitipan anak, kejadian ini malah berubah menjadi alarm keras bahwa kita belum sepenuhnya siap.
Situasi saat ini, cukup banyak keluarga muda yang bergantung pada daycare. Perubahan sosial, terutama meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja, membuat pola pengasuhan ikut berubah.
Anak tidak lagi sepenuhnya diasuh di rumah, tetapi juga dititipkan pada lembaga pengasuhan. Dalam konteks ini, daycare seharusnya menjadi ruang aman, bukan ruang risiko.
Baca juga: Opini: Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, dan Ujian Soemitronomics
Namun, realitas menunjukkan hal sebaliknya. Kasus di Yogyakarta mengungkap sejumlah persoalan mendasar.
Pengasuh yang tidak terlatih, rasio anak dan pengasuh yang tidak seimbang, minimnya pengawasan, serta lemahnya standar operasional membuat persoalan ini menjadi sangat kompleks.
Lebih parah lagi, banyak daycare yang belum terdaftar atau tidak memiliki izin resmi. Itu berarti, sistem yang seharusnya melindungi anak justru belum kokoh.
Di sinilah pentingnya melihat persoalan ini dari perspektif kebijakan pembangunan keluarga, khususnya melalui peran Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN atau yang kini dikenal sebagai Kemendukbangga/BKKBN.
Lembaga ini tidak hanya berbicara soal keluarga berencana (KB), tetapi juga kualitas pengasuhan sebagai fondasi pembangunan manusia.
Salah satu langkah strategis yang dikembangkan adalah Program Prioritas bernama Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA).
Program ini hadir bukan sekadar sebagai alternatif daycare, tetapi sebagai upaya mentransformasi cara pandang terhadap pengasuhan anak di luar rumah.
TAMASYA menekankan bahwa pengasuhan bukan hanya soal menjaga anak tetap aman secara fisik, tetapi juga memastikan tumbuh kembangnya optimal, baik secara emosional, sosial, maupun kognitif.
Dalam pendekatan TAMASYA, pengasuh tidak cukup hanya “menjaga”. Mereka harus memiliki kompetensi, memahami perkembangan anak, serta mampu menerapkan pola asuh tanpa kekerasan. Orangtua juga tidak boleh dilepaskan begitu saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Eduardus-Johanes-Sahagun-MA.jpg)