Opini
Opini: Busuk Tongkol Jagung
Tongkol tampak normal dari luar. Namun kerusakan berkembang di dalam. Saat panen tiba, hasil sudah menyusut.
Pengendalian busuk tongkol harus dimulai sejak pra-tanam. Pemilihan varietas toleran dan penggunaan benih bersertifikat menjadi langkah awal. Fondasi ini penting untuk menekan risiko infeksi sejak fase pertumbuhan dini.
Di tingkat budidaya, rotasi tanaman sangat diperlukan. Komoditas non-inang menekan populasi patogen di tanah.
Sanitasi lahan juga krusial; sisa tanaman terinfeksi harus dikelola agar siklus penyakit terputus.
Pengendalian hama serangga tidak boleh diabaikan. Luka akibat gigitan menjadi pintu masuk patogen. Integrasi pengendalian hama dan penyakit menurunkan risiko infeksi secara menyeluruh.
Ketepatan waktu panen juga penting; panen terlambat meningkatkan paparan tongkol terhadap kelembapan dan menurunkan mutu hasil.
Pada tahap pascapanen, pengeringan menjadi kunci. Kadar air harus diturunkan hingga sekitar 14 persen atau kurang.
Penyimpanan dengan ventilasi baik dan kelembapan terkendali mencegah perkembangan jamur.
Pendekatan terpadu ini memadukan aspek agronomis, biologis, dan manajerial untuk menekan risiko hingga batas aman, bukan menghilangkan patogen sepenuhnya.
Peran Negara dan Tanggung Jawab Kolektif
Selama ini, pengendalian penyakit sering dibebankan sepenuhnya kepada petani. Pendekatan ini tidak memadai.
Busuk tongkol memiliki implikasi sistemik, sehingga negara perlu hadir lebih aktif dan terstruktur.
Ketersediaan benih unggul tahan penyakit harus diperluas dan terjangkau. Riset pemuliaan varietas adaptif perlu diperkuat.
Tanpa inovasi berkelanjutan, petani akan terus bersikap reaktif terhadap ancaman penyakit.
Sistem peringatan dini berbasis iklim menjadi sangat penting. Integrasi data cuaca, informasi risiko infeksi, dan penyuluhan lapangan membantu petani bersiap menghadapi masa risiko tinggi. Informasi harus sampai tepat waktu agar keputusan budidaya lebih presisi.
Standardisasi mutu dan pengawasan mikotoksin harus diperketat. Laboratorium uji harus mudah diakses dan terjangkau. Edukasi praktik budidaya dan pascapanen juga harus berkelanjutan.
Petani perlu memahami bahwa kerugian akibat penyakit langsung memengaruhi harga pangan yang mereka konsumsi sehari-hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)