Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Opini: Demikianlah Mereka Bukan Lagi Dua Melainkan Satu

Realitas virtual menyediakan dunia virtual yang tampak meyakinkan bagi orang-orang yang mengalaminya. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI AGUSTINUS SASMITA
Agustinus S. Sasmita 

Oleh: Agustinus Silvianus Sasmita
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Tetangga yang baik bagi masyarakat zaman ini adalah teknologi. Hyperreality menjadi istilah yang tepat untuk membahasakan keadaan ini. 

Seseorang menganggap objek semu sebagai realitas yang lebih nyata dibandingkan dengan objek nyata itu sendiri. 

John Tiffin, sebagaimana dikutip dalam buku “Sisi Liar Manusia” karya Hariansyah, menyatakan bahwa hyperreality berbeda dari lingkungan virtual. 

Baginya, realitas virtual tidak lebih dari sebuah teknologi yang menampilkan realitas yang dihasilkan komputer sebagai alternatif realitas fisik. 

Baca juga: 7 Zodiak Kurang Hoki, Ramalan Zodiak Kesehatan Besok 1 Maret, Gemini Iritasi Mata, Leo Sakit Gigi

Hyperreality menciptakan realitas virtual menjadi pengalaman dalam realitas fisik. 

Realitas virtual menyediakan dunia virtual yang tampak meyakinkan bagi orang-orang yang mengalaminya. 

Sebaliknya, hyperreality menciptakan hyperworld yang memudarkan batas antara yang riil dan yang virtual, sekaligus membuatnya tampak natural. 

Dengan kata lain, teknologi bukan hanya berhasil meduplikasi realitas, melainkan memberi makna lain atasnya.

Realitas palsu itu mudah dikonsumsi karena lebih menarik dan mudah diakses. Teknologi memberi suasana realitas yang manusia tidak dapatkan dari alam (nature). 

Tawaran teknologi menembus dan menguasai archetype atau ruang privat kepribadian manusia dan mulai mengendalikannya. 

Ada setumpuk kenyataan yang hadir sebagai notifikasi dari masalah ini, di antaranya: konektivitas relasi intersubjektif antar-manusia tergerus, mental model (paradigma) manusia cenderung bersifat teknologistik; 

Manusia tidak lagi melihat teknologi sebagai alat melainkan menyesuaikan dirinya dengan cara kerja mesin (didikte oleh algoritma), dan cara berperasaan manusia menjadi “terkuantifikasi” yang dikalkulasi dalam reaksi like, super, share, dan seterusnya.

Keadaan ini yang oleh McLuhan menyebutnya sebagai global village. Istilah tersebut disampaikan dalam bukunya yang berjudul The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man dan Understanding Media: The Extensions of Man.  

Global village dipahami sebagai akibat lanjut dari munculnya penemuan listrik dan alat komunikasi elektronik. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved