Opini
Opini: Demikianlah Mereka Bukan Lagi Dua Melainkan Satu
Realitas virtual menyediakan dunia virtual yang tampak meyakinkan bagi orang-orang yang mengalaminya.
Baginya, bola bumi menyusut menjadi seukuran desa dan memungkinkan setiap orang mengirim pesan hanya dalam waktu singkat.
McLuhan terinspirasi dari kenyataan lingkungan pedesaan, yang penduduknya saling mengenal dan berinteraksi satu dengan yang lain secara intensif.
Lebih spesifik, konsep desa global menjelaskan bahwa dengan adanya jaringan, tidak ada lagi batas waktu dan tempat yang jelas. Informasi dapat berpindah dengan cepat dan mudah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Lebih lanjut, media sosial (teknologi) menjadi wacana ekspresi diri, pencurahan isi hati, ajang pencarian hal-hal baru, hingga ladang mata pencaharian.
Sebagai konsekuensi lanjut, perkembangan teknologi turut serta membentuk cara manusia menilai hingga membuat keputusan. Dalam pandangan yang sekarang tampak lumrah, sukses selalu identik dengan viral.
Popularitas menjadi profesi baru yang terus diburu oleh banyak orang. Algoritma hanya menanpilkan sosok-sosok yang memiliki viewers yang banyak.
Keberadaan mereka menjadi panutan atau setidaknya menjadi target capaian dari para pengemarnya.
Dignitas Homo Digitalis
Konsep martabat pada manusia sudah dikenal sejak zaman Romawi Kuno, yang dikenal dengan sebutan “dignitas”.
Dalam konteks itu, dignitas diartikan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan yang diberikan kepada seseorang karena kontribusinya bagi masyarakat.
Dignitas juga mengacu pada kapabilitas atau karakteristik fungsional; tindakan yang dilandasi oleh keutamaan-keutamaan.
The Center for Bioethics and Human Dignity, menilai martabat manusia sebagai pengakuan terhadap manusia karena memiliki nilai intrinsik khusus atas kemanusiaannya dan layak untuk dihargai karena manusia adalah manusia.
Rinie Steinmann seorang pakar hukum asal Amerika, memberi tiga unsur dasar martabat manusia: pertama, ontological claim, yang mengacu pada kualitas unik manusia yang tak ternilai harganya, tak tergantikan, dan terdapat dalam diri setiap orang.
Kedua, dignity of recognition yang merupakan pengakuan dan penghargaan terhadap sesama manusia.
Ketiga, relational claim dengan berlandaskan pada ide Kantian, yang mempertegas bahwa negara harus hadir dan menjamin hak setiap individu, di mana manusia (dan nilai-nilai kemanusiaannya) harus selalu menjadi tujuan akhir dari setiap kebijakan.
Salah satu unsur penentu dingitas manusia adalah otonominya. Saat ini kita melihat adanya automasi, seperti pada kecerdasan buatan (teknologi), yang mampu mengerjakan tugas-tugas tertentu tanpa pengawasan manusia.
Augustinus S. Sasmita
Agustinus Silvianus Sasmita
Virtual
konser virtual
Opini Pos Kupang
Meaningful
realitas virtual
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Menemukan Kembali Lumbung Pakan di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
| Opini: Koperasi Merah Putih untuk NTT- Solusi atau Ilusi |
|
|---|
| Opini: Ketika Sapu Lama Mengaku Lebih Bersih dari Rumah yang Belum Pernah Ia Bersihkan |
|
|---|
| Opini: Integritas Auditor BPK dalam Sistem Pengawasan Keuangan Negara |
|
|---|
| Opini: NTT- Adat, Ibu Nifas dan Nyawa yang Dipertaruhkan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Agustinus-S-Sasmita.jpg)