Opini
Opni: Valentine’s Day dan Retaknya Makna Kasih
Bahagia harus terlihat, romantis harus terdokumentasi, dan lebih dari itu perhatian seolah-olah sah kalau sudah diposting ke ruang publik.
Oleh: Rafael Lumintang
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Berbicara tentang acara atau sebut saja “panggung romantis” di bulan Febuari, tentu tidak asing lagi di telinga kita tentang Valentine’s Day.
Setiap bulan Febuari, timeline kita berubah jadi panggung romantisme yang bergerak secara massal.
Bingkisan bunga, coklat dengan berbagai jenis yang mahal, bahkan lebih daripada itu, mengupload foto pasangan dengan caption yang manis di akun Instagram, Facebook, dan WhatsApp.
Tagar Valentine kembali naik daun, brand-brand berlomba kasih promo couple atau sepasang, dan seolah ada tekanan halus bahwa hari yang istimewa tersebut sejatinya dirayakan dengan sesuatu yang sangat “spesial.”
Baca juga: Opini: Bergerak dari Fall in Love Menuju Standing in Love
Semua tampak indah, estetik, dan tentunya penuh cinta. Namun, di balik background romantisme itu, muncul pertanyaan yang jarang kita tanyakan dengan jujur, “apakah kita benar-benar sedang merayakan cinta yang otentik, atau sekadar mengikuti arus bingkai kasih sayang yang samar-samar?”
Dalam arus digitalisasi yang serba cepat, relasi yang sering dikatakan “mesra ini” sering terasa seperti proyek pencitraan.
Bahagia harus terlihat, romantis harus terdokumentasi, dan lebih dari itu perhatian seolah-olah sah kalau sudah diposting ke ruang publik.
Validasi datang secepat kilat dari jumlah like dan komentar, bukan lagi dari kesetiaan yang sunyi atau komitmen yang bertumbuh pelan-pelan.
Cinta jadi terasa instan, reaktif, bahkan mudah diganti ketika tidak lagi memberi “sensasi yang sama, yang sesuai selera lama.”
Kita merayakan “hari kasih sayang dengan meriah,” tetapi barangkali tanpa sadar sedang mengalami disparitas makna.
Kita tahu cara mengekspresikan cinta, tetapi belum tentu “tahu cara menjalaninya secara dewasa dan bertanggung jawab.”
Perayaan yang Meriah, Makna yang Menipis
Valentine’s Day atau hari kasih sayang setiap tahun dirayakan dengan penuh antusiasme, khususnya oleh anak-anak muda yang mendominasi perayaan ini.
Seperti yang saya kemukakan di atas, bunga yang indah, coklat, diskon restoran dan supermarket, bahkan unggahan sosial media yang dipenuhi simbol-simbol yang bernama romantisme.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa hari kasih sayang sangat relevan dengan konteks zaman ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rafael-Lumintang-02.jpg)