Opini
Opni: Valentine’s Day dan Retaknya Makna Kasih
Bahagia harus terlihat, romantis harus terdokumentasi, dan lebih dari itu perhatian seolah-olah sah kalau sudah diposting ke ruang publik.
Namun, di balik perayaan yang didominasi oleh “kemeriahan, dan keindahan,” ada suatu suatu diskontinuitas makna terdalam, sebut saja “cinta yang terluka.”
Hal ini menunjukan bahwa hari kasih sayang perlahan menjelma secara lembut menjadi “ritus konsumsi.”
Makna cinta kasih ditakar atau diukur dari “harga hadiah,” dari seberapa estetik unggahan, dari seberapa layak dipamerkan relasi itu di ruang digital.
Hari spesial ini sering bukan lagi soal kesungguhan untuk memaknai dan menghidupinya secara utuh, melainkan soal “momen yang harus kelihatan mewah, dan harus berbeda dengan orang lain.”
Cinta jadi seperti event tahunan yang seyogiyanya diposting, lengkap dengan coklat, bunga, foto estetik, dan juga foto romantis yang sedikit dibumbui dengan caption manis supaya “validitasnya terjamin di mata publik.”
Dalam konteks ini, yang penting terlihat romatis, bukan sungguh-sungguh bertumbuh.
Dari sini kita dapat melihat dengan jernih bahwa ada keretakan yang mulai terasa; cinta tidak lagi direalisasikan sebagai proses yang utuh dan dewasa, tetapi sebagai “sensasi temporal yang harus spektakuler.’
Cinta dalam Bayang-Bayang Pasar dan Budaya Instan
Cinta yang kehilangan keutuhannya seperti yang saya gambarkan di atas tidak muncul secara tiba-tiba.
Ia tumbuh, hadir, di zaman yang serba cepat, serba mudah, dan serba “harus perfeksionis dan efesien.”
Kita hidup dalam budaya yang kalau saya bahasakan secara “gaul sesuai zaman milenial ini,” swipe kanan, swipe kiri, chat intens seminggu kemudian ghosting, move on secepat update story.
Cinta jadi terasa seperti sebuah “hal transaksional,” selama masih bikin nyaman dan bahagia, lanjut; kalau sudah terasa berat atau membosankan, tinggal cari yang baru.
Saya melihat fenomena ini lebih progresif bahwa “seolah-olah hubungan cinta yang sejatinya tulus dalam diri manusia, bisa direduksi menjadi seperti barang di keranjang belanja.”
Medsos atau media sosial membuat cinta makin terasa seperti “panggung sandiwara.”
Hal yang terlihat secara gamblang bukan lagi kedalaman hubungan atau proses saling memahami yang panjang, tapi seberapa estetik dan “layak upload” sebuah relasi terlihat di layar.
Momentum romantis disulap menjadi konten, kebahagiaan seperti butuh validasi publik supaya terasa keren, spektakuler, nyata, dan ukuran cinta perlahan bergeser ke jumlah “like serta komentar manis.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rafael-Lumintang-02.jpg)