Opini
Opini: Bergerak dari Fall in Love Menuju Standing in Love
Dalam kehidupan berkeluarga juga demikian, dua orang manusia menyatu membangun keluarga baru atas nama cinta.
Oleh: Afrianus Juang
Mahasiswa IFTK Ledalero Maumere, Flores - Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Cinta adalah bagian penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang mengejar cinta, bejuang dengan sekuat tenaga bahkan merelakan nyawa atas nama cinta.
Kehidupan remaja sering dikaitkan dengan cinta. Jatuh cinta adalah frase yang sering kita dengar ketika berhadapan dengan remaja. Membangun relasi (berpacaran) menjadi bagain terpenting dalam masa remaja.
Dalam kehidupan berkeluarga juga demikian, dua orang manusia menyatu membangun keluarga baru atas nama cinta.
Jika kita bertanya, kedua orangtua kita atau siapa saja yang sudah menyatu menjadi sebuah keluarga tentang alasan mereka bersatu dan membangun keluarga, maka alasannya adalah cinta.
Cinta begitu dahsyat, sehingga menyatukan perbedaan, kekurangan dan kelebihan masing-masing individu.
Baca juga: Opini: Pariwisata NTT dan Ilusi Keramaian
Hal ini mengamini apa yang pernah disampaikan seorang filsuf berkebangsaan Austria, Martin Buber “engkau tidak lain adalah aku yang lain”
Namun, di zaman ini cinta seakan kehilangan daya magisnya. Kenyataan akan ada banyak kasus perceraian, kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya, telah memunculkan pertanyaan tentang nilai cinta yang berkurang ataukah orang yang salah memaknai cinta.
Lantas, masihkah cinta mempunyai kekuatan yang dasyat? yang mampu mengikat satukan dua insan dengan latar belakang dan perbedaan-perbedaan yang ada.
Tentunya, tidak mudah menjawab persoalan ini. Pada tulisan sederhana ini, saya akan menggunakan salah satu konsep dar Erich Fromm tentang cinta.
Seperti pada judul tulisan ini, Dari Fallin in love menuju standing in love. Erich Fromm memperlihatkan perbedaan dua konsep ini dalam bukunya yang berjudul The Art of Loving (1956).
Kita tidak berhenti pada tingkatan jatuh cinta saja, melainkan bergerak menuju tingkatan berdiri dalam cinta.
Fallin in Love (jatuh cinta), Fromm sangat menentang istilah ini, Saat kedua orang jatuh cinta keduanya akan meruntuhkan tembok diri mereka masing- masing dan berusaha menjadi satu, mereka merasakan kegembiraan yang begitu luar biasa dan perlahan menjadi antusias menjalani hidup secara bersama-sama.
Bagi Fromm, ini adalah hal yang alamiah dan dapat dialami oleh siapapu. Selanjutnya Fromm menjelaskan bahwa ketika keduanya sudah saling mengenal dan mengerti satu sama lain perlahan rasa itu mulai hilang dan bisa jadi berahkir pada hubungan yang rengang dan perceraian bagi mereka yang telah menikah.
Fallin in love, dalam perspektif Fromm tidak menyentuh makna terdalam dari hakikat cinta yang sesungguhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Afrianus-Juang-02.jpg)