Breaking News
Minggu, 3 Mei 2026

Opini

Opni: Valentine’s Day dan Retaknya Makna Kasih

Bahagia harus terlihat, romantis harus terdokumentasi, dan lebih dari itu perhatian seolah-olah sah kalau sudah diposting ke ruang publik. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI RAFAEL LUMINTANG
Rafael Lumintang 

Hal ini memberikan suatu dampak yang tak dapat dipungkiri, cinta kehilangan daya transformasinya, ia tak lagi jadi ruang bertumbuh bersama dalam terminologi “kesetiaan dan komitmen,” melainkan berubah jadi ajang pembuktian diri. 

Dari duduk persoalan ini, cinta mudah direduksi menjadi konsumsi emosional, dinikmati selama masih menyenangkan dan terlihat menarik, lalu ditinggalkan ketika “sensasinya memudar, habis manis sepah dibuang.” 

Erich Fromm dan Seni Mencintai yang Terlupakan

Eric Fromm seorang filsuf Jerman, dalam karyanya yang sangat populer The Art of Loving, dengan tajam mendiagnosis situasi yang tidak pasti di atas. 

Menurut Fromm, problem fundamental manusia modern bukan karena ia tidak dicintai, melainkan karena ia tidak tahu bagaimana menintai. 

Filsuf ini mengafirmasi bahwa cinta bukan sekadar perasaan spontan “aku cinta kamu, lalu upload dan mencari validitas di mata publik,” melainkan sebuah seni. 

Setiap seni menuntut adanya pemblajaran mekanistik tentang disiplin, konsentrasi, kesabaran, serta komitmen yang utuh. 

Cinta adalah aktivitas produktif dari jiwa, bukan sekadar “nafsu kebinatangan yang tidak terkontrol.” 

Dalam kerangka pola pikir masyarakat kapitalistik, menurut Fromm, relasi dialektis manusia cenderung mengikuti “model pasar.” 

Individu kerap diberi label menjadi “komoditas atau barang dagangan utama,” yang berusaha tampil sedemikian rupa agar terlihat menarik supaya dipilih. 

Cinta sekali lagi “disulap” menjadi pertukaran nilai, aku memberikan sesuatu sejauh aku mendapatkan sesuatu yang setara atau lebih. 

Padahal bagi Fromm, “cinta sejati adalah tindakan memberi, bukan dalam arti kehilangan, tetapi dalam arti menegaskan eksistensi diri.” 

Cinta adalah kekuatan yang memungkinkan dua pribadi tetap utuh, namun sekaligus bersatu. Cinta tidak menguasai, tidak mengonsumsi, apalagi memanfaatkan. 

Tak terasa kita sudah berada di penghujung episode di akhir tulisan tentang “hari kasih sayang” ini. 

Valentine’s Day sejatinya menjadi momentum untuk mengingat kembali dimensi ini. 

Bukan sekadar merayakan perasaan, tetapi melatih diri dalam “seni mencintai,” tanggung jawab, respek, pengetahuan dan kepedulian. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved