Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Valentine sebagai Momentum Membentuk Cinta yang Membebaskan

Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental, relasi yang tidak sehat sering menimbulkan tekanan emosional. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Handri Ediktus 

Gagasan ini sejalan denganunkapan rasul Paulus, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu, tidak mencari keuntungan diri sendiri” (1 Korintus 13:4–5). 

Cinta yang tidak mencari keuntungan diri sendiri berarti berani keluar dari pusat ego, memberi tanpa mengekang, dan hadir tanpa menahan. 

Mencintai tanpa mengurung bukan berarti membiarkan tanpa arah. Ia tetap memiliki batas, komitmen, dan tanggung jawab, tetapi dibangun atas dasar saling menghargai, bukan saling memiliki. 

Komitmen itu lahir dari kebebasan yang dipilih, bukan dari ketakutan yang dipaksakan.

Valentine sebagai Momentum Refleksi Cinta yang Dewasa

Valentine bukan sekadar bunga atau cokelat, tetapi momen untuk bertanya: sudahkah kita mencintai dengan cara yang membebaskan? 

Apakah kita hadir dengan percaya, mendukung pertumbuhan, atau justru membatasi langkah pasangan?

Cinta yang membebaskan lahir dari kedewasaan, bukan kebutuhan memiliki. Ia membangun kepercayaan, memberi ruang tanpa mengekang, dan hadir dengan integritas. 

Evaluasi cara kita mencintai orang lain sekaligus diri sendiri, karena cinta yang sejati selalu dimulai dari pribadi yang damai dan tidak terancam oleh kebebasan.

Pertanyaan terpenting bukan “Apa yang sudah kamu berikan?” tetapi “Apakah kehadiranmu membuat ia bertumbuh?” Cinta sejati bukan menahan, tetapi membiarkan tumbuh bersama dan sendiri. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved