Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Valentine sebagai Momentum Membentuk Cinta yang Membebaskan

Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental, relasi yang tidak sehat sering menimbulkan tekanan emosional. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Handri Ediktus 

Ia menekankan bahwa cinta yang sehat menuntut disiplin, kesabaran, pengertian terhadap pasangan sebagai pribadi unik, serta rasa hormat yang memberi ruang bagi kebebasan dan pertumbuhan diri.

Fenomena ini sangat relevan bagi anak muda hari ini. Penelitian menunjukkan bahwa kecemburuan romantis dan rendahnya kepercayaan berkorelasi dengan menurunnya kepuasan dalam hubungan. 

Kecemburuan kerap muncul dari ketergantungan emosional, rasa takut kehilangan, atau kurangnya kepercayaan, yang pada akhirnya membatasi ruang pribadi dan pilihan bebas pasangan. 

Singkatnya, hubungan sehat bukan diukur dari seberapa erat kita terikat, tetapi dari seberapa baik kita mampu mencintai tanpa merampas kebebasan orang lain. Inilah esensi cinta yang membebaskan.

Ketika Cinta Berubah Jadi Kepemilikan

Salah satu kesalahpahaman paling umum dalam relasi hari ini adalah menyamakan cinta dengan kepemilikan. 

Sering terdengar ungkapan seperti,  “Kalau kamu cinta, kamu harus selalu ada,” atau “Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti menuruti.” 

Dalam praktiknya, hal ini terlihat jelas. Pasangan dipantau setiap gerakannya, aktivitas online diperiksa, dan batasan sosial diterapkan dengan dalih perhatian. 

Cemburu tak lagi menjadi emosi yang dikelola, tetapi menjadi alasan untuk mengatur hidup orang lain. 

Penelitian dalam psikologi relasi menunjukkan bahwa kecemburuan romantis yang tinggi berkorelasi dengan rendahnya kepuasan hubungan dan meningkatnya konflik interpersonal (Guerrero, L. K., Andersen, P. A., & Afifi, W. A. (2018). 

Semakin besar dorongan untuk mengontrol, semakin rapuh kualitas hubungan itu sendiri. 

Lebih jauh, teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby menjelaskan bahwa individu dengan pola keterikatan cemas cenderung bersikap posesif dan mudah merasa terancam penolakan. 

Mereka sering mengontrol, merasa cemas saat pasangan tidak segera merespons, dan selalu mencari validasi. 

Fenomena ini diperparah oleh budaya media sosial, di mana pengawasan digital terhadap pasangan, misalnya memantau aktivitas online berhubungan dengan meningkatnya kecemburuan dan konflik (Muise, A., Christofides, E., & Desmarais, S. (2009).

Dalam situasi seperti ini, cinta mudah berubah menjadi ketakutan. Takut disaingi, takut ditinggalkan, atau takut tidak dianggap cukup sering menyamar sebagai perhatian. 

Kita mengontrol karena cemas, membatasi karena takut kehilangan. Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre mengingatkan bahwa ketika seseorang berusaha menguasai kebebasan orang lain sepenuhnya, relasi itu akan dipenuhi konflik. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved