Opini
Opini: Valentine sebagai Momentum Membentuk Cinta yang Membebaskan
Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental, relasi yang tidak sehat sering menimbulkan tekanan emosional.
Bagi Sartre, manusia adalah makhluk bebas, dan upaya menjadikan orang lain sebagai milik berarti meniadakan kebebasannya di situlah cinta kehilangan makna.
Ketika cinta berubah menjadi kepemilikan, identitas diri yang pertama kali hilang.
Seseorang mulai menyesuaikan diri bukan karena pertumbuhan, tetapi karena takut konflik.
Impian diperkecil, pergaulan dibatasi, nilai-nilai pribadi dikorbankan demi menjaga hubungan tetap utuh.
Namun hubungan yang dipertahankan dengan mengorbankan jati diri akan terasa kosong.
Ironisnya, semakin erat kita mencoba menggenggam, semakin mudah cinta itu retak.
Kepemilikan mungkin memberi rasa aman sementara, tetapi jarang memberi kedamaian sejati.
Belajar Mencintai Tanpa Mengurung
Jika kepemilikan lahir dari ketakutan, cinta yang membebaskan lahir dari kedewasaan.
Mencintai tanpa mengurung bukan berarti acuh atau tidak peduli. Justru sebaliknya, ia menuntut kesadaran lebih dalam.
Kita hadir sepenuhnya, tetapi tidak meniadakan ruang pribadi pasangan. Kita peduli tanpa mengontrol, berkomitmen tanpa mengekang.
Erich Fromm, dalam The Art of Loving, menekankan bahwa cinta adalah tindakan aktif, bukan sekadar perasaan pasif. Cinta sejati mengandung perhatian, tanggung jawab, pengertian, dan rasa hormat.
Rasa hormat ini penting: mencintai berarti mengakui dan menjaga keunikan serta kebebasan orang yang dicintai.
Dalam praktik sehari-hari, cinta yang membebaskan terlihat dari cara kita memberi pasangan waktu untuk sendiri tanpa rasa curiga, mendukung impian dan pertumbuhan mereka, mengedepankan komunikasi jujur daripada asumsi atau pengawasan, dan mengelola kecemburuan sebagai emosi pribadi yang disadari, bukan dilampiaskan.
Kedewasaan dalam mencintai berarti menerima bahwa kita tidak bisa mengendalikan seluruh hidup orang lain.
Kita hanya bisa hadir dengan integritas, memilih kembali setiap hari untuk hadir dalam hubungan, bukan memaksa untuk tetap tinggal.
Handri Ediktus
Hari Kasih Sayang
Opini Pos Kupang
Pemulihan Makna Cinta
Unwira Kupang
Mahasiswa Unwira Kupang
Valentine Day
Hari Valentine
| Opini: Mesin Kepuasan atau Negara Pembelajar |
|
|---|
| Opini: Banjir Keyakinan, Krisis Kebenaran |
|
|---|
| Opini: Perairan NTT Tak Sekadar Terkait Perut Rakyat Namun Sumber Kedaulatan Ekonomi |
|
|---|
| Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas |
|
|---|
| Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Handri-Ediktus1.jpg)