Opini
Opini: Valentine sebagai Momentum Membentuk Cinta yang Membebaskan
Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental, relasi yang tidak sehat sering menimbulkan tekanan emosional.
Oleh: Handri Ediktus, CMF
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Di zaman ketika kata “cinta” mudah diucapkan dan dipamerkan, hubungan sering terasa sesak.
Lelah karena tuntutan, harus selalu tersedia, atau karena cinta yang seharusnya memberi ruang justru terasa mengekang.
Survei menunjukkan kecemburuan dan kurangnya kepercayaan menjadi salah satu penyebab konflik dalam hubungan anak muda.
Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental, relasi yang tidak sehat sering menimbulkan tekanan emosional.
Namun pertanyaan penting jarang diajukan: apakah cara kita mencintai sudah dewasa?
Baca juga: Cerpen: Cinta Dalam Sepi
Banyak orang mengira rasa sesak itu tanda keseriusan, cemburu dianggap bukti cinta, kontrol dianggap perhatian.
Padahal, jika cinta membuat kita kehilangan napas, mungkin yang dijalani bukan cinta, tetapi ketakutan untuk kehilangan.
Valentine seharusnya menjadi momen refleksi: sudahkah kita mencintai dengan cara yang membebaskan?
Cinta sejati bukan soal memiliki, tetapi memberi ruang berjalan berdampingan tanpa mengurung.
Apa Itu Cinta yang Membebaskan?
Cinta yang membebaskan adalah cinta yang memberi ruang bagi dua pribadi untuk berkembang tanpa saling mengekang.
Ini bukan sekadar perasaan manis, tetapi pola relasi sehat di mana kepercayaan, identitas, dan pertumbuhan tetap terjaga.
Dua orang tetap memilih satu sama lain bukan karena ketergantungan atau takut sendirian, tetapi karena kedewasaan dalam mencintai.
Filsuf dan psikolog sosial Erich Fromm dalam The Art of Loving menyebut cinta sebagai seni yang harus dipelajari dan dipraktikkan secara sadar.
Menurut Fromm, cinta sejati terdiri atas rasa hormat, tanggung jawab, pemahaman, dan kedewasaan. Tanpa itu, cinta mudah berubah menjadi posesif atau dominasi.
Ia menekankan bahwa cinta yang sehat menuntut disiplin, kesabaran, pengertian terhadap pasangan sebagai pribadi unik, serta rasa hormat yang memberi ruang bagi kebebasan dan pertumbuhan diri.
Fenomena ini sangat relevan bagi anak muda hari ini. Penelitian menunjukkan bahwa kecemburuan romantis dan rendahnya kepercayaan berkorelasi dengan menurunnya kepuasan dalam hubungan.
Kecemburuan kerap muncul dari ketergantungan emosional, rasa takut kehilangan, atau kurangnya kepercayaan, yang pada akhirnya membatasi ruang pribadi dan pilihan bebas pasangan.
Singkatnya, hubungan sehat bukan diukur dari seberapa erat kita terikat, tetapi dari seberapa baik kita mampu mencintai tanpa merampas kebebasan orang lain. Inilah esensi cinta yang membebaskan.
Ketika Cinta Berubah Jadi Kepemilikan
Salah satu kesalahpahaman paling umum dalam relasi hari ini adalah menyamakan cinta dengan kepemilikan.
Sering terdengar ungkapan seperti, “Kalau kamu cinta, kamu harus selalu ada,” atau “Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti menuruti.”
Dalam praktiknya, hal ini terlihat jelas. Pasangan dipantau setiap gerakannya, aktivitas online diperiksa, dan batasan sosial diterapkan dengan dalih perhatian.
Cemburu tak lagi menjadi emosi yang dikelola, tetapi menjadi alasan untuk mengatur hidup orang lain.
Penelitian dalam psikologi relasi menunjukkan bahwa kecemburuan romantis yang tinggi berkorelasi dengan rendahnya kepuasan hubungan dan meningkatnya konflik interpersonal (Guerrero, L. K., Andersen, P. A., & Afifi, W. A. (2018).
Semakin besar dorongan untuk mengontrol, semakin rapuh kualitas hubungan itu sendiri.
Lebih jauh, teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby menjelaskan bahwa individu dengan pola keterikatan cemas cenderung bersikap posesif dan mudah merasa terancam penolakan.
Mereka sering mengontrol, merasa cemas saat pasangan tidak segera merespons, dan selalu mencari validasi.
Fenomena ini diperparah oleh budaya media sosial, di mana pengawasan digital terhadap pasangan, misalnya memantau aktivitas online berhubungan dengan meningkatnya kecemburuan dan konflik (Muise, A., Christofides, E., & Desmarais, S. (2009).
Dalam situasi seperti ini, cinta mudah berubah menjadi ketakutan. Takut disaingi, takut ditinggalkan, atau takut tidak dianggap cukup sering menyamar sebagai perhatian.
Kita mengontrol karena cemas, membatasi karena takut kehilangan. Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre mengingatkan bahwa ketika seseorang berusaha menguasai kebebasan orang lain sepenuhnya, relasi itu akan dipenuhi konflik.
Bagi Sartre, manusia adalah makhluk bebas, dan upaya menjadikan orang lain sebagai milik berarti meniadakan kebebasannya di situlah cinta kehilangan makna.
Ketika cinta berubah menjadi kepemilikan, identitas diri yang pertama kali hilang.
Seseorang mulai menyesuaikan diri bukan karena pertumbuhan, tetapi karena takut konflik.
Impian diperkecil, pergaulan dibatasi, nilai-nilai pribadi dikorbankan demi menjaga hubungan tetap utuh.
Namun hubungan yang dipertahankan dengan mengorbankan jati diri akan terasa kosong.
Ironisnya, semakin erat kita mencoba menggenggam, semakin mudah cinta itu retak.
Kepemilikan mungkin memberi rasa aman sementara, tetapi jarang memberi kedamaian sejati.
Belajar Mencintai Tanpa Mengurung
Jika kepemilikan lahir dari ketakutan, cinta yang membebaskan lahir dari kedewasaan.
Mencintai tanpa mengurung bukan berarti acuh atau tidak peduli. Justru sebaliknya, ia menuntut kesadaran lebih dalam.
Kita hadir sepenuhnya, tetapi tidak meniadakan ruang pribadi pasangan. Kita peduli tanpa mengontrol, berkomitmen tanpa mengekang.
Erich Fromm, dalam The Art of Loving, menekankan bahwa cinta adalah tindakan aktif, bukan sekadar perasaan pasif. Cinta sejati mengandung perhatian, tanggung jawab, pengertian, dan rasa hormat.
Rasa hormat ini penting: mencintai berarti mengakui dan menjaga keunikan serta kebebasan orang yang dicintai.
Dalam praktik sehari-hari, cinta yang membebaskan terlihat dari cara kita memberi pasangan waktu untuk sendiri tanpa rasa curiga, mendukung impian dan pertumbuhan mereka, mengedepankan komunikasi jujur daripada asumsi atau pengawasan, dan mengelola kecemburuan sebagai emosi pribadi yang disadari, bukan dilampiaskan.
Kedewasaan dalam mencintai berarti menerima bahwa kita tidak bisa mengendalikan seluruh hidup orang lain.
Kita hanya bisa hadir dengan integritas, memilih kembali setiap hari untuk hadir dalam hubungan, bukan memaksa untuk tetap tinggal.
Gagasan ini sejalan denganunkapan rasul Paulus, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu, tidak mencari keuntungan diri sendiri” (1 Korintus 13:4–5).
Cinta yang tidak mencari keuntungan diri sendiri berarti berani keluar dari pusat ego, memberi tanpa mengekang, dan hadir tanpa menahan.
Mencintai tanpa mengurung bukan berarti membiarkan tanpa arah. Ia tetap memiliki batas, komitmen, dan tanggung jawab, tetapi dibangun atas dasar saling menghargai, bukan saling memiliki.
Komitmen itu lahir dari kebebasan yang dipilih, bukan dari ketakutan yang dipaksakan.
Valentine sebagai Momentum Refleksi Cinta yang Dewasa
Valentine bukan sekadar bunga atau cokelat, tetapi momen untuk bertanya: sudahkah kita mencintai dengan cara yang membebaskan?
Apakah kita hadir dengan percaya, mendukung pertumbuhan, atau justru membatasi langkah pasangan?
Cinta yang membebaskan lahir dari kedewasaan, bukan kebutuhan memiliki. Ia membangun kepercayaan, memberi ruang tanpa mengekang, dan hadir dengan integritas.
Evaluasi cara kita mencintai orang lain sekaligus diri sendiri, karena cinta yang sejati selalu dimulai dari pribadi yang damai dan tidak terancam oleh kebebasan.
Pertanyaan terpenting bukan “Apa yang sudah kamu berikan?” tetapi “Apakah kehadiranmu membuat ia bertumbuh?” Cinta sejati bukan menahan, tetapi membiarkan tumbuh bersama dan sendiri. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
Handri Ediktus
Hari Kasih Sayang
Opini Pos Kupang
Pemulihan Makna Cinta
Unwira Kupang
Mahasiswa Unwira Kupang
Valentine Day
Hari Valentine
| Opini: Mesin Kepuasan atau Negara Pembelajar |
|
|---|
| Opini: Banjir Keyakinan, Krisis Kebenaran |
|
|---|
| Opini: Perairan NTT Tak Sekadar Terkait Perut Rakyat Namun Sumber Kedaulatan Ekonomi |
|
|---|
| Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas |
|
|---|
| Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Handri-Ediktus1.jpg)