Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Valentine sebagai Momentum Membentuk Cinta yang Membebaskan

Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental, relasi yang tidak sehat sering menimbulkan tekanan emosional. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Handri Ediktus 

Oleh:  Handri Ediktus, CMF
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Di zaman ketika kata “cinta” mudah diucapkan dan dipamerkan, hubungan sering terasa sesak. 

Lelah karena tuntutan, harus selalu tersedia, atau karena cinta yang seharusnya memberi ruang justru terasa mengekang. 

Survei menunjukkan kecemburuan dan kurangnya kepercayaan menjadi salah satu penyebab konflik dalam hubungan anak muda. 

Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental, relasi yang tidak sehat sering menimbulkan tekanan emosional. 

Namun pertanyaan penting jarang diajukan: apakah cara kita mencintai sudah dewasa?

Baca juga: Cerpen: Cinta Dalam Sepi

Banyak orang mengira rasa sesak itu tanda keseriusan, cemburu dianggap bukti cinta, kontrol dianggap perhatian. 

Padahal, jika cinta membuat kita kehilangan napas, mungkin yang dijalani bukan cinta, tetapi ketakutan untuk kehilangan. 

Valentine seharusnya menjadi momen refleksi: sudahkah kita mencintai dengan cara yang membebaskan? 

Cinta sejati bukan soal memiliki, tetapi memberi ruang berjalan berdampingan tanpa mengurung.

Apa Itu Cinta yang Membebaskan?

Cinta yang membebaskan adalah cinta yang memberi ruang bagi dua pribadi untuk berkembang tanpa saling mengekang. 

Ini bukan sekadar perasaan manis, tetapi pola relasi sehat di mana kepercayaan, identitas, dan pertumbuhan tetap terjaga. 

Dua orang tetap memilih satu sama lain bukan karena ketergantungan atau takut sendirian, tetapi karena kedewasaan dalam mencintai.

Filsuf dan psikolog sosial Erich Fromm dalam The Art of Loving menyebut cinta sebagai seni yang harus dipelajari dan dipraktikkan secara sadar. 

Menurut Fromm, cinta sejati terdiri atas rasa hormat, tanggung jawab, pemahaman, dan kedewasaan. Tanpa itu, cinta mudah berubah menjadi posesif atau dominasi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved