Sabtu, 25 April 2026

Opini

Opini: Ketika Anak Mengambil Pilihan Ekstrem- Alarm Keras bagi Perlindungan Anak 

Anak-anak diciptakan untuk bermain dan bermimpi, bukan untuk dipaksa menimbang hidup dan mati. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ZERLINDA C.A. SANAM
Zerlinda Christine Aldira Sanam 

Oleh: Zerlinda Christine Aldira Sanam, S.Psi., M.Psi 
Psikolog, Dosen Prodi Psikologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana  dan Psikolog Klinis.

POS-KUPANG.COM - Artikel ini memuat isu sensitif terkait kesehatan mental anak. 

Bagi pembaca yang merasa terpicu secara emosional atau sedang mengalami tekanan psikologis, disarankan untuk membaca dengan hati-hati atau berhenti sejenak. 

Jika Anda membutuhkan bantuan, silakan menghubungi Layanan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Sejiwa 119 ext. 8 atau fasilitas layanan kesehatan terdekat.

Kematian seorang anak adalah kehilangan yang tak tergantikan. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika tragedi semacam ini berlalu tanpa refleksi mendalam dan perubahan nyata. 

Anak-anak tidak membutuhkan dunia yang sempurna; mereka membutuhkan dunia yang mau berhenti sejenak, mendengarkan, dan memahami bahwa di balik tubuh kecil mereka, ada beban emosi yang bisa jadi terlalu berat untuk ditanggung sendirian. 

Baca juga: Opini - Manusia Bukan Angka: Ketika Kebijakan Publik Gagal Menjaga Anak Bangsa

Anak-anak diciptakan untuk bermain dan bermimpi, bukan untuk dipaksa menimbang hidup dan mati. 

Ketika seorang anak usia sekolah dasar sampai pada pilihan ekstrem untuk mengakhiri hidupnya, peristiwa itu bukan sekadar tragedi personal, melainkan alarm keras bahwa lingkungan dewasa, keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara, telah gagal mengembalikan anak pada usianya.

Cara Anak Memahami Dunia

Menurut ahli psikologi perkembangan Jean Piaget, anak usia 9–10 tahun berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret. 

Pada tahap ini, anak mulai mampu berpikir logis dan memahami sebab-akibat, termasuk memahami kematian sebagai sesuatu yang bersifat permanen. 

Namun, pemahaman tersebut belum disertai kematangan emosional dan kemampuan berpikir abstrak seperti orang dewasa. 

Anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang, belum bisa melihat hidup sebagai proses yang bisa berubah, dan masih cenderung berpikir secara hitam putih.

Kondisi tekanan yang berat dan berkepanjangan seperti kehilangan figur orang tua, kemiskinan, kesepian, atau perasaan menjadi beban dapat menyebabkan anak sampai pada kesimpulan ekstrem: “Kalau aku tidak ada, masalah akan selesai.” 

Kesimpulan ini bisa saja bukan lahir dari keinginan untuk mati, melainkan dari ketidakmampuan seorang anak melihat solusi lain di luar penderitaan yang sedang ia alami, “Molo mama” (selamat tinggal mama), bisa jadi merupakan kesimpulan tragis yang diambil dari sulitnya pengalaman hidup yang dirasakan.

Sayangnya, seringkali dalam konteks sosial kita, kesedihan anak kerap diremehkan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved