Minggu, 3 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Di Bawah Kaki Salib, Aku Serahkan Semuanya

Aku datang tidak untuk menuntut kesempurnaan, tapi aku datang untuk membawa diri dengan cinta yang tak sempurna ini kepada-Nya. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
ILUSTRASI 

Oleh: Fr. Yohanes Boli Jawang*

POS-KUPANG.COM - Tak ada kata-kata yang dapat kuucapkan lagi, selain dari sunyi yang akan selalu kugenggam bersama doa selamanya. 

Di kaki salib, aku datang dan berdiri teguh, dengan membawa cinta yang tak utuh dengan doa yang tak sempurna. 

Aku datang tidak untuk menuntut kesempurnaan, tapi aku datang untuk membawa diri dengan cinta yang tak sempurna ini kepada-Nya. 

Di kaki salib, aku belajar untuk mencintai, bukan dengan harapan akan sebuah sentuhan melainkan tetap teguh dalam kesendirian dengan penyangkalan yang paling radikal. 

Di golgota tempat laknat yang kini jadi puncak kejayaan saat salib berdiri teguh, batu-batu seakan menyimpan doa yang paling diam.  

Baca juga: Cerpen: Malam yang Terputus di Km 72

Hasrat yang ada dengan rindu yang meluap-luap, kutaruh dalam darah dan debu di sepanjang jalan sengsara sebagai tanda cinta yang tak akan pernah terbagi dan lambang selibat hingga selamanya. 

Di bawah kaki salib, aku serahkan semuanya bukan karena aku tidak dapat mencintai tetapi aku lebih memilih mengasihi tanpa harus memiliki; dan cintaku hanya untuk Sang Cinta agar menjadi doa yang tak pernah berakhir. 

Di antara pelataran laknat di bawah kaki salib, aku teguh berdiri dengan penuh penyangkalan. 

Di puncak golgota, embusan angin seakan berbisik lembut bahwa, "yang tampak hanyalah sementara yang tak akan pernah bisa engkau miliki." 

Di puncak golgota, tempat laknat dan kayu penghukuman penjahat disucikan oleh darah dan jadi kemenangan; bukan hanya simbol iman tetapi juga tentang kejujuran cinta yang paling radikal dengan penuh penyangkalan dari kesungguhan cinta yang tidak hanya menyelamatkan diri dan kerelaan hingga sampai pada penyerahan yang total. 

Di kaki salib, dalam segala kerapuhan aku datang membawa ketaksempurnaan dengan harapan yang paling diam serta rindu yang tak berarah. Cinta telah lama kugenggam dalam sunyi yang paling tak dimengerti. 

Pada kaki salib, dengan penuh penyangkalan; aku datang membawa separuh cintaku yang tak harus jadi milik, cinta yang terus mengalir tanpa menuju titik tertentu; tetapi cinta yang pada akhirnya kepada Cinta abadi kukembalikan.

Sejatinya, jalan ini bukanlah jalan bagi mereka yang kebal pada kesepian dan tak tahu bagaimana mencintai. 

Ini bukan tentang percobaan yang penuh muslihat dan pura-pura bahwa aku tak memiliki hasrat. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved