Opini
Opini: Kekuatan Tanah yang Hilang
Tanah yang runtuh bukan kejadian mendadak, melainkan hasil kerusakan sistematis dari dalam.
Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Tanah sering dipandang hanya sebagai latar belakang kehidupan: diinjak, ditanami, dan dibebani bangunan tanpa disadari.
Selama tidak menimbulkan masalah, keberadaannya nyaris tak diperhatikan, seolah hanya permukaan pasif yang selalu siap menopang manusia.
Padahal tanah adalah sistem aktif yang terus bereaksi terhadap air, suhu, kimia, dan tekanan dari alam maupun aktivitas manusia.
Di dalamnya berlangsung interaksi kompleks antara mineral, air, udara, ion, mikroorganisme, dan akar tanaman; jaringan proses fisika, kimia, dan biologis ini bekerja tanpa henti, membentuk dinamika tersembunyi di bawah permukaan.
Keseimbangan internal dari interaksi ini menentukan apakah tanah kokoh atau rapuh.
Baca juga: 12 Ramalan Zodiak Besok 6 Januari, 7 Hoki : Capricorn Santai &Bebas Tekanan
Ikatan kimia antarpartikel, distribusi air dalam pori, dan aktivitas biologis membentuk kekuatan internal yang memungkinkan tanah menopang lereng, jalan, maupun bangunan bertingkat.
Stabilitas ini bukan kebetulan, melainkan hasil kerja sunyi sistem yang saling mendukung.
Namun ketika keseimbangan terganggu, tanah bisa runtuh tanpa tanda kasat mata.
Tanah tidak selalu retak atau bergerak terlebih dahulu; sering kali kegagalan terjadi mendadak karena sistem internalnya telah lama rapuh, menegaskan bahwa kekuatan tersembunyi lebih penting daripada yang terlihat di permukaan.
Peran Hujan
Setiap peristiwa longsor hampir selalu dijelaskan dengan satu sebab yang terdengar sederhana: hujan deras.
Penjelasan ini mudah diterima karena hujan hadir tepat sebelum kejadian dan meninggalkan jejak yang nyata, sehingga kerap dianggap sebagai penyebab utama bencana.
Namun secara ilmiah, hujan jarang bekerja sendirian. Air memang berperan dalam proses longsor, tetapi hampir tidak pernah menjadi satu-satunya faktor penentu.
Pada tanah yang sehat dan stabil, air justru menjadi bagian dari sistem penyangga yang membantu mendistribusikan tekanan dan menjaga keseimbangan struktur internal.
Masalah muncul ketika tanah telah kehilangan kekuatan jauh sebelum hujan turun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)