Opini
Opini: Mitos Standarisasi dan Wabah GERM dalam Pendidikan Kita
Kita seperti terjebak pada satu keyakinan lama bahwa pengukuran adalah obat untuk semua penyakit pendidikan.
Oleh: Petrus Redy Partus Jaya
Dosen Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Mahasiswa Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.
POS-KUPANG.COM - Di tengah hiruk pikuk upaya kita membenahi kualitas pendidikan dasar dan menengah, kita tampaknya masih tersandera oleh satu obsesi lama: pengukuran.
Kita seperti terjebak pada satu keyakinan lama bahwa pengukuran adalah obat untuk semua penyakit pendidikan.
Kita memandang tes bak kompas yang akan menunjukkan arah pembenahan, padahal bisa jadi justru ia adalah gejala bahwa kita sedang kehilangan arah.
Selama bertahun-tahun, kita menempatkan tes standar sebagai instrumen magis yang dipercaya mampu meningkatkan mutu; apa pun namanya, entah itu TKA, AKM, asesmen nasional, atau seleksi masuk sekolah.
Baca juga: Opini: Menjaga Imago Dei
Seolah-olah, kalau kita ukur siswa lebih sering, mereka otomatis akan belajar lebih giat, dan mutu sekolah akan terdongkrak. Logikanya sederhana, tetapi kesederhanaan inilah yang sering menipu.
Pertanyaannya: benarkah sistem pendidikan membaik karena kita rajin mengukur?
Atau jangan-jangan ia justru sedang sakit dan kita sibuk mengukur suhu tubuhnya, alih-alih menyembuhkan penyebabnya?
Di sinilah gagasan menarik dari Pasi Sahlberg, pakar pendidikan asal Finlandia, terasa sangat relevan.
Ia memperkenalkan istilah GERM akronim dari Global Education Reform Movement, sebuah istilah untuk menyindir tren reformasi pendidikan dunia yang menyebar layaknya virus patogen.
Dalam bahasa Inggris germ berarti kuman, bibit penyakit, sesuatu yang kecil namun mudah menular dan melemahkan tubuh.
Sahlberg dengan sengaja memilih metafora medis ini untuk menggambarkan GERM, sebuah “wabah” yang diam-diam telah menyebar ke banyak negara, termasuk kita.
Inti dari ideologi ini adalah pemaksaan logika pasar dan korporasi ke dalam ruang kelas, di mana sekolah dipaksa bersaing satu sama lain layaknya perusahaan, guru ditekan dengan standar akuntabilitas yang kaku, dan keberhasilan pendidikan direduksi hanya sebatas angka-angka pada lembar ujian standar.
Bak wabah yang tak kasat mata, GERM menginfeksi sistem pendidikan dengan mengubah focus utama sekolah: dari upaya memanusiakan dan mengembangkan bakat unik setiap anak, menjadi sekadar pabrik pencetak nilai demi memenuhi indikator ekonomi dan peringkat global.
Jika GERM dianalogikan sebagai virus, maka tes standar adalah medium penularannya yang paling aktif.
Petrus Redy Partus Jaya
Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng
Global Education Reform Movement
GERM
dunia pendidikan
POS-KUPANG.COM
Opini Pos Kupang
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Opini: Diagnosa Dini- Jembatan Memperpanjang Hidup |
|
|---|
| Opini: Flores Timur di Persimpangan ETMC 2026 |
|
|---|
| Opini: Problem Kerusakan Infrastruktur Jalan di Kampung Leong Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Budaya Percaya Instan dan Jerat Pinjaman Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Petrus-Redy-Partus-Jaya.jpg)