Opini
Opini: Mitos Standarisasi dan Wabah GERM dalam Pendidikan Kita
Kita seperti terjebak pada satu keyakinan lama bahwa pengukuran adalah obat untuk semua penyakit pendidikan.
Mereka berangkat dari garis start yang jauh di belakang, tetapi diukur dengan meteran yang sama dan dilabeli dengan aturan yang sama.
Ketika skor tes dijadikan filter masuk sekolah, alat seleksi, atau label “pintar”, tes tersebut bertransformasi dari alat pengembangan menjadi alat pemberi stempel yang memperkuat kesenjangan.
Tes standar yang tampak objektif berubah menjadi instrument ketidakadilan yang rapi.
Ia bekerja dalam senyap, namun dampaknya nyata: menyingkirkan yang lemah, meninggikan yang sudah menang sejak awal.
Membangun Kekebalan Pendidikan: Dari Menguji ke Mempercayai
Jika sistem pendidikan kita ingin sembuh dari wabah GERM, kita perlu merombak paradigma.
Bukan sekadar mengurangi tes, tetapi menggeser filosofi dasarnya. Dari mentalitas prove (menguji untuk membuktikan) menuju improve (membangun untuk memperbaiki).
Finlandia adalah contoh yang paling sering disebut, bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka menunjukkan bahwa sistem pendidikan bisa kebal dari virus GERM.
Mereka tidak menjalankan tes standar nasional secara rutin. Mereka tidak terobsesi dengan peringkat. Mereka tidak “mengawasi” guru lewat angka-angka.
Mengapa? Karena mereka sudah selesai dengan membangun fondasi: kualitas guru.
Profesi guru seleksinya ketat, pendidikannya mendalam, status sosialnya tinggi, dan kesejahteraannya terjamin. Ketika fondasi input kuat, negara tidak perlu melakukan kontrol kualitas di hilir.
Yang muncul justru kepercayaan (trust) sebagai mata uang utama pengelolaan pendidikan. Di sanalah letak imunisasi mereka terhadap GERM.
Di Indonesia, kita cenderung melakukan hal sebaliknya. Kita banyak berbicara tentang hasil, tetapi sedikit berinvestasi pada penyebabnya.
Kita memproduksi instrumen tes yang rumit, tetapi lupa menyirami akar persoalan: kompetensi guru, fasilitas sekolah, dukungan daerah, dan pemerataan kualitas PAUD dan pendidikan dasar.
Jangan lagi kita berharap “timbangan” (tes) akan membuat sapi lebih gemuk.
Yang membuat sapi gemuk adalah pemberian pakan yang bergizi dan perawatan yang baik, bukan seberapa sering kita menimbangnya.
Saatnya Berhenti Berkaca ke Belakang
Petrus Redy Partus Jaya
Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng
Global Education Reform Movement
GERM
dunia pendidikan
POS-KUPANG.COM
Opini Pos Kupang
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Opini: Diagnosa Dini- Jembatan Memperpanjang Hidup |
|
|---|
| Opini: Flores Timur di Persimpangan ETMC 2026 |
|
|---|
| Opini: Problem Kerusakan Infrastruktur Jalan di Kampung Leong Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Budaya Percaya Instan dan Jerat Pinjaman Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Petrus-Redy-Partus-Jaya.jpg)