Opini
Opini: Budaya Percaya Instan dan Jerat Pinjaman Digital
Masyarakat yang dikejar kebutuhan harian sering merasa tidak memiliki cukup waktu untuk mencari solusi yang aman dan terukur.
Oleh: Mario Suban Bahy
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira, Kupang - Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Perekonomian Indonesia belakangan ini bergerak dalam tekanan yang semakin terasa di tingkat rumah tangga.
Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, biaya pendidikan yang tidak pernah menunggu, serta lapangan kerja yang semakin kompetitif membuat banyak keluarga hidup dalam ruang napas yang sempit.
Di tengah situasi itu, pertumbuhan ekonomi digital justru menghadirkan jalan keluar yang tampak cepat melalui layanan keuangan berbasis aplikasi.
Masyarakat yang dikejar kebutuhan harian sering merasa tidak memiliki cukup waktu untuk mencari solusi yang aman dan terukur.
Baca juga: Asetku Edukasi Literasi Warga Desa Oenlasi di NTT, Bedakan Fintech Legal dan Pinjol Ilegal
Ketika uang harus tersedia hari ini, pilihan yang paling cepat selalu terlihat paling masuk akal.
Dalam ruang ekonomi yang tertekan seperti inilah pinjaman online tumbuh subur sebagai jawaban instan atas kecemasan finansial.
Kehadirannya bukan sekadar produk teknologi, tetapi cermin dari daya beli yang rapuh dan tekanan hidup yang semakin nyata.
Di tengah tekanan ekonomi itu, jerat pinjaman digital tidak lagi mengenal batas profesi dan tingkat pendidikan.
Detikcom pernah menyoroti kenyataan bahwa guru termasuk kelompok profesi yang banyak terjebak pinjaman online ilegal (Rumonda Naibaho, Detikcom).
Fakta ini terasa menampar karena profesi yang setiap hari membentuk masa depan anak bangsa justru ikut terseret oleh beban kebutuhan masa kini.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan pinjol bukan sekadar kurangnya pendidikan formal, melainkan kerasnya tekanan ekonomi rumah tangga yang memaksa orang mencari jalan pintas.
Kebutuhan sekolah anak, cicilan hidup, kewajiban sosial, dan biaya tak terduga sering datang bersamaan tanpa kompromi.
Ketika pemasukan tidak lagi mampu menutup ritme pengeluaran bulanan, pinjol tampil seperti pintu darurat yang selalu terbuka.
Dari sinilah budaya percaya pada solusi instan tumbuh, diterima, lalu perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mario-Suban-Bahy.jpg)