Kamis, 9 April 2026

Opini

Opini: Flores Timur di Persimpangan ETMC 2026

Sepak bola tidak lagi diposisikan sebagai ruang sosial yang hidup, tetapi sebagai kegiatan yang membutuhkan biaya besar. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GIOVANNI XIMENES COLLYN
Giovanni Ximenes Collyn 

Oleh: Giovanni Ximenes Collyn 
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

POS-KUPANG.COM - Perhelatan kejuaraan sepak bola El Tari Memorial Cup (ETMC) 2026 di Kabupaten Flores Timur terancam batal, meskipun daerah tersebut telah ditunjuk sebagai tuan rumah. 

Alasan utamanya, sebagaimana disampaikan oleh anggota DPRD NTT Syaiful Sengaji, adalah ketiadaan alokasi anggaran dalam postur APBD untuk melaksanakan agenda sepak bola paling bergengsi di NTT tersebut (Pos Kupang 6/4/2026). 

Situasi ini memunculkan pertanyaan bukan sekadar tentang kesiapan teknis, melainkan juga perihal bagaimana sebuah event olahraga dimaknai dalam paradigma pembangunan daerah.

Baca juga: ETMC Tahun 2026 Terancam Batal Digelar di Flotim, Anggota DPRD NTT Syaiful Sengaji Beri Catatan

Dalam kondisi anggaran yang terbatas, keputusan untuk menyelenggarakan event berskala besar seperti ETMC menuntut perhitungan yang cermat, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga operasional pertandingan. 

Dalam konteks ini, kehati-hatian pemerintah merupakan sikap yang dapat dipahami, karena menjaga stabilitas keuangan daerah tetap menjadi prioritas.

Namun, situasi ini tidak semata-mata berdiri sendiri. Pembatalan Festival Bale Nagi 2026, yang sejak 2019 rutin digelar setelah perayaan Semana Santa untuk memperpanjang masa tinggal peziarah sekaligus menggerakkan ekonomi lokal, menunjukkan pola serupa. 

Ketika dua momentum berbeda menghadapi kendala yang sama yakni keterbatasan anggaran, persoalan ini tidak lagi dapat dibaca sebagai kasus tunggal, melainkan sebagai refleksi dari kondisi fiskal daerah. 

Dari sini muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah keterbatasan keuangan selalu harus berujung pada pembatalan, atau justru membuka ruang bagi perumusan strategi alternatif?

Hal ini menarik jika dikaitkan dengan pandangan Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, yang dalam sebuah wawancara di kanal POLGAS TV (25/05/2025) menekankan bahwa di tengah keterbatasan anggaran, pembangunan pariwisata tetap dapat dimulai melalui penyelenggaraan event sebagai cara menciptakan keramaian sosial dan menggerakkan aktivitas masyarakat. 

Pandangan tersebut bahkan tidak berhenti pada tataran gagasan, tetapi tercermin dalam dukungannya terhadap penyelenggaraan Solor Fun Run yang tetap digelar meski berada dalam kondisi fiskal yang terbatas. 

Hal ini menunjukkan bahwa event diposisikan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebagai strategi awal untuk memicu pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata.

Namun, ketika di sisi lain terdapat event yang justru dibatalkan dengan alasan keterbatasan anggaran, terlihat adanya jarak antara gagasan strategis dan praktik kebijakan di lapangan.

Pemerintah daerah tentu tidak berada dalam posisi yang abai terhadap potensi yang ditawarkan ETMC seperti pergerakan ekonomi lokal yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. 

Namun, dalam praktiknya, kondisi keuangan yang seret kerap membuat potensi tersebut tidak mudah diwujudkan secara konsisten. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved