Opini
Opini: Mitos Standarisasi dan Wabah GERM dalam Pendidikan Kita
Kita seperti terjebak pada satu keyakinan lama bahwa pengukuran adalah obat untuk semua penyakit pendidikan.
Sekali masuk ke sistem pendidikan, ia memicu “gejala” yang khas: obsesi pada kompetisi, penyeragaman ekstrem, dan ketergantungan pada pengujian berisiko tinggi.
Sekolah tidak lagi seperti taman belajar yang subur, tetapi lebih mirip gelanggang balap.
Siswa berlari tanpa henti, guru menjadi pawang skor, dan institusi pendidikan berubah menjadi pabrik nilai.
Evaluasi yang Regresif: Seperti Mengautopsi, Bukan Mengobati
Salah satu masalah terbesar dari ketergantungan kita pada tes standar adalah sifat evaluasinya yang regresif.
Kita mengukur pendidikan dengan cara memandang ke belakang, bukan ke depan.
Kita menunggu di ujung jalan, menghentikan siswa dengan lembar jawaban, lalu memberi vonis atas perjalanan panjang pembelajaran mereka.
Padahal, pendekatan ini seperti melakukan autopsi terhadap pasien yang sudah tidak bernyawa, cari penyebabnya dan tulis hasilnya tetapi semuanya terjadi ketika sudah terlambat untuk diselamatkan.
Kita mengevaluasi hasil, tetapi mengabaikan penyebab. Kita menuntut panen yang melimpah, tetapi tidak peduli apakah tanahnya subur, benihnya baik, dan apakah petaninya (baca: guru) sejahtera, terlatih, dan mendapat dukungan yang memadai.
Dalam manajemen mutu, ada prinsip yang sangat terkenal: You cannot inspect quality into a product.
Kualitas tidak bisa diciptakan hanya dengan menginspeksi hasil di akhir. Namun begitulah yang terus kita lakukan.
Kita memeriksa output dengan ketat, tetapi kita lupa membangun sistem yang memungkinkan kualitas itu tumbuh sejak dalam proses.
Tes Standar: Mesin Baru Penghasil Ketidakadilan
Yang lebih memprihatinkan, tes standar sering kali menjadi generator ketidakadilan social yang halus, elegan, dan tampak ilmiah.
Robert K. Merton menyebut fenomena ini sebagai Efek Matius: mereka yang sudah memiliki keuntungan, akan semakin diuntungkan.
Dalam konteks pendidikan Indonesia, skor tes tinggi sering kali bukan hasil kecerdasan alami; ia adalah cermin privilese, gizi yang baik sejak dalam kandungan, fasilitas lengkap, lingkungan rumah yang suportif, guru berkualitas, dan kemampuan membiayai bimbel yang mahal.
Lalu bagaimana dengan anak dari keluarga terbatas? Siswa di sekolah yang kekurangan guru atau, anak yang hidup di daerah 3T?
Petrus Redy Partus Jaya
Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng
Global Education Reform Movement
GERM
dunia pendidikan
POS-KUPANG.COM
Opini Pos Kupang
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Opini: Diagnosa Dini- Jembatan Memperpanjang Hidup |
|
|---|
| Opini: Flores Timur di Persimpangan ETMC 2026 |
|
|---|
| Opini: Problem Kerusakan Infrastruktur Jalan di Kampung Leong Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Budaya Percaya Instan dan Jerat Pinjaman Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Petrus-Redy-Partus-Jaya.jpg)