Kamis, 30 April 2026

Opini

Opini: Ketika Hukum Hanya Menjadi Naskah Bukan Suara Keadilan

Sebuah peraturan kehilangan roh dan jiwanya jika tidak ada keadilan, dan berubah menjadi "hukum kata benda" yang mati.  

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI EBED BILI PATI SEKO
Ebed Bili Pati Seko 

Selain itu, selama era Nazi Jerman, undang-undang yang sah justru digunakan untuk melegitimasi pembunuhan dan penindasan massal.  

Hukuman berubah dari pelindung menjadi algojo dan dari penjaga keadilan menjadi tukang cambuk penguasa.  

Semua orang seharusnya menerima peringatan pahit ini.  Ketika hukum hanya menjadi alat kekuasaan dan kehilangan rasa keadilan masyarakat, maka hukum sedang mengkhianati tujuannya.

Dalam menghadapi kebekuan pemikiran hukum yang positivistik, muncullah gagasan hukum progresif yang menawarkan napas segar. 

Hukum progresif memahami bahwa hukum harus mengalir bagaikan air (pantha rei), yang berusaha beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan selalu berpijak pada martabat manusia, bukan manusia untuk hukum, melainkan hukum untuk manusia. 

Adapun konsep epikeia atau kewajaran hukum menawarkan kebijaksanaan dalam menafsirkan aturan. 

Hukum tidak boleh diterapkan secara kaku seperti mesin, tetapi harus mempertimbangkan keunikan setiap kasus. 

Sebuah buku mungkin secara teknis melanggar bunyi harfiah undang-undang, tetapi apakah ia benar-benar layak disita? 

Apakah tidak ada cara yang lebih bijaksana untuk menyikapinya?

Buku yang adalah laboratorium ilmu dari para pembaca bukanlah alat untuk membunuh, karena ilmu yang diterima dari membaca bukanlah proses pasif seperti menuang air ke dalam gelas kosong. 

Itu adalah analogi yang keliru dan menyesatkan. Membaca adalah proses yang hidup dan dialektis. 

Saat kita membaca Karl Marx, Max Weber, atau bahkan pemikiran yang dicap sesat atau kiri, kita sedang memasuki ruang debat intelektual. 

Kita membawa pra-pemahaman dan prasangka kita, sementara teks menantang, menggugat, atau bahkan mengguncang keyakinan kita sendiri. 

Dalam pandangan hermeneutika Georg Gadamer, proses ini disebut Horizonverschmelzung yang diartikan sebagai peleburan cakrawala. 

Cakrawala pemahaman kita bertemu dengan cakrawala pemahaman yang terkandung dalam teks, melahirkan sebuah horizon baru yang lebih luas. Namun, penyitaan buku memutus proses ini secara brutal. 

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved