Minggu, 26 April 2026

Opini

Opini: Oko Mama Rohani- Sebuah Wadah Sebelum Obat

Kepemimpinan rakyat di NTT bukan hanya soal hadir saat krisis, tetapi soal memberi rasa dihormati sebelum memberi perintah.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DEBBIE MARLENI SODAKAIN
Debbie Marleni Sodakain 

Refleksi Sosio Teologis dari NTT dalam Terang Yehezkiel 34:4, 16

Oleh: Debbie Marleni Sodakain
Pendeta GMIT di Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT
e-Mail: dmsodakain@gmail.com

POS-KUPANG.COM - Di sebuah rumah sederhana di Timor, seorang mama tidak langsung bertanya ketika tamu datang. 

Ia tidak tergesa mencari tahu apa masalahnya, siapa yang salah, atau apa yang harus segera diselesaikan. 

Ia membuka oko mama terlebih dahulu. Tangannya pelan, seperti mengerti bahwa ada luka yang tidak bisa disentuh dengan cepat. Sirih dan pinang disusun, lalu disodorkan. 

Baca juga: Opini: Satgas PPKPT- Fondasi Pencegahan Kekerasan di Kampus Nusa Tenggara Timur

Di situ percakapan belum dimulai, tetapi sesuatu yang lebih mendasar sudah terjadi. Martabat manusia dipulihkan sebelum kata-kata diucapkan.

Oko mama bukan sekadar kotak sirih pinang. Ia adalah protokol kemanusiaan. Ia mengatakan tanpa suara: aku menghargaimu sebagai manusia sebelum aku mendengar apa masalahmu. 

Dari titik inilah saya membaca Nusa Tenggara Timur hari ini. Bukan dari konsep yang jauh. 

Bukan dari meja yang rapi. Tetapi dari tubuh tubuh yang hidup, menahan, merawat, kehilangan dan terus bertahan di tanah ini.

Sebagai perempuan yang melayani di NTT, saya tidak membaca luka rakyat dari kejauhan. 

Saya membacanya dari tubuh perempuan yang berjalan mencari air, dari ibu yang gelisah melihat anaknya kurang gizi, dari keluarga yang menunggu kabar anaknya di tanah rantau, dari jemaat yang datang beribadah dengan wajah tenang tetapi hatinya penuh retak. 

Kita sering menyebut semua itu sebagai ketahanan. Kita menyebutnya kerja keras. 

Kita kadang menyebutnya iman. Tetapi saya ingin jujur: tidak semua yang bertahan itu sehat tidak semua yang diam itu kuat.

NTT masih memikul beban kemiskinan yang besar. BPS mencatat pada September 2025, persentase penduduk miskin NTT sebesar 17,50 persen, sekitar 1,03 juta jiwa. 

Angka itu memang turun dibanding periode sebelumnya, tetapi ia tetap menunjuk pada kenyataan bahwa banyak orang masih hidup dengan ruang martabat yang sempit (Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2026). 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved