Opini

Opini: Dari Homo Sapiens ke Homo Hedonis

Media sosial mempercepat penyebarannya, membuatnya viral, dan menjadikannya konsumsi sehari-hari.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa Pascasarjana Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero, Maumere - Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Dalam beberapa tahun terakhir, publik Indonesia kerap disuguhi berita perselingkuhan dan skandal yang melibatkan artis, pejabat, hingga aparatur sipil negara. 

Media sosial mempercepat penyebarannya, membuatnya viral, dan menjadikannya konsumsi sehari-hari.

Ironisnya, peristiwa yang dahulu dianggap aib kini sering diperlakukan sebagai hiburan.

Fenomena ini menandakan bergesernya sensitivitas moral masyarakat terhadap persoalan yang sesungguhnya mengancam tatanan sosial.

Yuval Noah Harari dalam Sapiens (2015) dan Homo Deus (2017) menekankan bahwa manusia berevolusi bukan hanya secara biologis, tetapi juga secara kognitif dan budaya. 

Baca juga: Opini: Dua Sisi Internet di Nusa Tenggara Timur, Peluang Kemajuan dan Risiko Peretasan

Manusia modern tidak lagi sekadar Homo Sapiens yang berjuang untuk bertahan hidup, melainkan makhluk yang terus mengejar makna, kekuasaan, dan kesenangan. 

Pergeseran inilah yang ikut membentuk cara manusia memahami cinta dan relasi. 

Hasrat yang dulunya dikendalikan norma kini berkembang bebas di tengah masyarakat yang semakin kompleks.

Kapitalisme global dan teknologi digital mempercepat perubahan itu. Logika konsumsi merambah hingga ke ranah relasi personal. 

Hubungan kerap diperlakukan layaknya komoditas: bisa dicari, dipertukarkan, bahkan dibuang ketika tak lagi memuaskan. 

Media sosial dan aplikasi kencan memberi ruang instan yang memudahkan siapa saja menjelajahi godaan hubungan terlarang. Dengan satu klik, batas kesetiaan dapat ditembus.

Kondisi ini menandai lahirnya manusia baru yang dapat disebut Homo Hedonis: manusia yang menempatkan hasrat dan kenikmatan sebagai pusat orientasi hidup. 

Dalam kerangka ini, perselingkuhan bukan sekadar pelanggaran moral individu, melainkan gejala kultural yang menunjukkan pergeseran nilai dalam masyarakat. 

Skandal yang berulang tidak hanya mencerminkan kelemahan pribadi, tetapi juga krisis nilai pada level sosial yang lebih luas. Paradoks pun muncul. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved