Opini
Opini: Ketidakpastian Buruh di Era Digital
Eksploitasi buruh digital semakin terlihat di era platform. Pekerja seperti pengemudi ojek online bergantung pada algoritma.
Oleh: Efridus Rebo Ona
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Dunia kerja diera digital mengalami perubahan. Dulu buruh bekerja dengan jam tetap dan kontrak jelas, sekarang pola kerja lebih fleksibel tetapi penuh ketidakpastian.
Platform daring, algoritma, dan sistem kerja jarak jauh mengubah cara memahami kerja, sekaligus mengaburkan batas antara ruang kerja dan ruang pribadi.
Pekerjaan berbasis aplikasi seperti ojek online, kurir, atau freelancer memberi peluang baru. Buruh bisa memilih jam kerja sendiri dan menjangkau pasar global.
Namun, di balik fleksibilitas itu, mereka bergantung pada rating konsumen dan algoritma yang tidak transparan.
Baca juga: Opini: Racikan Superfood Lokal- Mengubah Limbah Menjadi Protein Ternak
Pendapatan tidak menentu, jam kerja tidak pasti, serta perlindungan sosial sering hilang.
Hubungan buruh dan perusahaan ikut bergeser. Perusahaan sering hanya berperan sebagai perantara, sehingga buruh dianggap mitra independen.
Akibatnya, hak dasar seperti jaminan kesehatan, pensiun, dan cuti tidak otomatis diberikan.
Untuk itu pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia agar buruh tetap dipandang sebagai potensi, bukan sekadar tenaga produksi.
Data resmi RPJMN 2025–2029 menempatkan transformasi digital sebagai agenda utama dalam menciptakan pekerjaan formal, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat pendidikan vokasi agar sesuai dengan kebutuhan industri.
Jutaan pekerja berpotensi hilang karena digantikan kecerdasan buatan, sementara banyak keterampilan inti diperkirakan akan berubah dalam lima tahun ke depan.
Tanpa pelatihan yang cepat dan inklusif, banyak buruh berisiko tertinggal. Oleh sebab itu, transformasi digital tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga menyangkut hubungan antara buruh, perusahaan, dan negara
Eksploitasi dan Minimnya Perlindungan Buruh Digital
Eksploitasi buruh digital semakin terlihat di era platform. Pekerja seperti pengemudi ojek online dan kurir bergantung pada algoritma yang menentukan order.
Ketidakpastian ini membuat mereka kehilangan kendali atas jam kerja dan pendapatan, sehingga posisi mereka semakin lemah di hadapan perusahaan.
Menurut ILO (International Labour Organization), pekerja platform sering tidak memiliki kepastian status kerja sehingga rentan terhadap eksploitasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Elfridus-Ona-01.jpg)