Opini
Opini: Demokrasi Kita, Cermin Cara Kita Dididik
Para pejabat yang kita pilih yang seharusnya jadi saluran aspirasi kita, justru tampak asyik dengan kemewahan, seolah hidup di planet yang berbeda.
Tentu, generalisasi ini tidak berlaku mutlak. Telah tumbuh bibit-bibit pendidikan kritis yang patut kita apresiasi, seiring dengan kebijakan yang mencoba mendorong kemerdekaan belajar.
Namun, harus diakui dengan jujur, model yang dominan di sebagian besar ruang kelas kita masihlah yang memandang pertanyaan kritis sebagai gangguan dan perdebatan sebagai pembangkangan.
Murid yang baik adalah murid yang patuh, yang diam, dan yang mampu mereproduksi pengetahuan persis seperti yang disampaikan.
Tanpa kita sadari, sekolah bukan hanya tempat kita belajar matematika atau sejarah. Ia adalah pabrik pertama yang mencetak mentalitas kita sebagai warga negara.
Selama belasan tahun, kita dilatih untuk menjadi penerima pasif, bukan partisipan aktif.
Pemikir pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, dalam karyanya yang monumental Pendidikan Kaum Tertindas, menyebut model ini sebagai "pendidikan gaya bank" (banking concept of education).
Dalam sistem ini, "pendidikan menjadi sebuah kegiatan 'menabung', di mana para siswa adalah celengannya dan guru adalah penabungnya".
Guru mengisi kepala murid yang dianggap kosong dengan narasi-narasi yang terlepas dari realitas hidup mereka. Jejak psikologis dari model ini sangatlah dalam dan berbahaya bagi demokrasi.
Pendidikan gaya bank menumpulkan kesadaran kritis dan mengkondisikan individu untuk menerima dunia sebagaimana adanya, bukan sebagai sebuah proyek yang bisa diubah.
Kita tumbuh menjadi individu yang gamang terhadap otoritas, memandang pejabat pemerintah sebagai "guru" versi dewasa yang serba tahu dan tak boleh dibantah.
Akibatnya, hubungan kita dengan penguasa bukanlah dialog setara antar warga negara, melainkan relasi asimetris guru-murid yang sarat kepatuhan.
Filsuf dan edukator Amerika, John Dewey, telah mengingatkan lebih dari seabad lalu bahwa demokrasi "harus dilahirkan kembali dalam setiap generasi dan pendidikan adalah bidannya" (Dewey, 1916).
Jika pendidikan kita gagal menjadi bidan bagi jiwa-jiwa demokratis, maka yang lahir adalah warga negara yang patuh secara mekanis, bukan partisipan yang kritis secara politis.
‘Bapakisme’: Akar Kultural dan Penguatan Institusional
Pola kepatuhan yang ditanamkan di sekolah ini menemukan lahan pembenarannya yang paling subur di benteng pertama kita: keluarga.
Petrus Redy Partus Jaya
Demokrasi
Unika Indonesia Santu Paulus Ruteng
Opini Pos Kupang
POS-KUPANG.COM
| Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan |
|
|---|
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
| Opini - Suanggi Dalam Pertarungan Pengetahuan: Antara Keyakinan Lokal dan Rasionalitas Moderen NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Petrus-Redy-Partus-Jaya.jpg)