Opini

Opini: Demokrasi Kita, Cermin Cara Kita Dididik

Para pejabat yang kita pilih yang seharusnya jadi saluran aspirasi kita, justru tampak asyik dengan kemewahan, seolah hidup di planet yang berbeda. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PETRUS REDY P JAYA
Petrus Redy Partus Jaya 

Oleh: Petrus Redy Partus Jaya
Dosen Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng,  Peneliti Bidang Evaluasi Pendidikan, dan  Asesor BAN PDM Provinsi NTT

POS-KUPANG.COM - Pernahkah kita berdiri di tengah keramaian, berteriak sekuat tenaga, namun suara kita seolah lenyap ditelan kehampaan? 

Begitulah potret bangsa kita hari ini. Di jalanan, rakyat menjeritkan beban hidup yang kian berat. 

Harga-harga meroket, pajak terasa mencekik dan ini bukan sekadar perasaan, data pun menunjukkan jurang kesenjangan yang kian menganga. 

Sementara itu dari balik jendela gedung-gedung megah kekuasaan, yang terlihat hanyalah ‘keheningan’. 

Para pejabat yang kita pilih yang seharusnya menjadi saluran aspirasi kita, justru tampak asyik dengan kemewahan, seolah hidup di planet yang berbeda. 

Baca juga: Opini: Ketika yang Terhormat Lupa Tuannya

Demonstrasi yang semestinya menjadi kanal dialog sakral dalam demokrasi, kini lebih terasa seperti ritual membuang frustrasi ke tembok bisu. 

Mengapa mereka begitu tuli? Kita sering mencari jawabannya di buku-buku tebal tentang politik dan ekonomi. Kita menyalahkan sistem, partai, atau individu tertentu. 

Akan tetapi, bahkan setelah hampir delapan dekade merdeka, situasi ini terasa seperti siklus lingkaran setan yang kian memburuk. 

Mungkin kita selama ini salah alamat. Mungkin akar kebisuan dan krisis representasi ini sejatinya jauh lebih dalam, lebih personal, dan lebih mendasar. 

Mungkin jawabannya tersembunyi di tempat kita pertama kali dibentuk: di bangku sekolah tempat kita belajar, dan di meja makan tempat kita dibesarkan. 

Krisis demokrasi kita, pada hakikatnya, adalah krisis pedagogis dan kultural.

Sekolah Sebagai Pabrik Kepatuhan 

Mari kita putar waktu sejenak dan merefleksikan pengalaman pendidikan kita. Ingatkah kita pada suasana ruang kelas kita dulu? 

Guru berdiri di depan, menjadi pusat semesta pengetahuan, sementara kita duduk rapi dengan tugas utama: mendengar, mencatat, dan menghafal. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved