Mengelola dan memimpin seluruh kru divisi redaksi untuk mencapai tujuan bersama.
Kini pemerintah dalam kebijakan pembangunan pariwisata NTT kiranya perlu berusaha membangun Labuhan Bajo Baru di daerah lainnya wilayah NTT.
Kenyataan kuat pertama yang menandai situasi Muspas adalah keceriaan yang jenaka. Para peserta tidak hanya datang untuk bermuspas.
Demokrasi menjanjikan kebebasan dan keadilan, tetapi yang dirasakan banyak orang justru korupsi, ketimpangan, dan kebisingan politik tanpa makna.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: di manakah hukum ketika manusia diperdagangkan seperti barang?
Sastra luring yang dulu dikenal dengan gaya narasi yang panjang, deskriptif, dan berlapis mulai berubah menjadi lebih ringkas dan langsung ke inti.
Namun di balik nilai tradisi itu, jagung juga menyimpan potensi ekonomi besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
Hikmah di balik bencana alam ini menjadi penting untuk diungkap di tengah situasi alam yang tengah gencar untuk diekploitasi.
AI dapat mensimulasikan empati, tetapi tidak benar-benar ‘memahami’ makna dari kejujuran atau ketulusan itu sendiri.
Data yang dihimpun oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan tren kekerasan yang makin mengkhawatirkan.
Desentralisasi dibangun atas kepercayaan — bahwa kekuasaan publik harus dekat dengan rakyat agar negara bisa belajar.
Faktor terakhir yang memicu peluang hujan tinggi secara lokal adalah kondisi perairan laut wilayah NTT.
Kini, Pegadaian menjadi titik pertama saat kebutuhan ekonomi mengetuk pintu secara paksa.
Banyak sekolah di NTT yang masih kekurangan sarana dan prasarana dasar seperti ruang kelas yang layak, laboratorium, dan perpustakaan.
Polemik ijazah Jokowi–Gibran menunjukkan bagaimana nilai simbolik sebuah dokumen dapat melampaui nilai esensial pendidikan.
Laut bagi mereka bukan sekadar tempat mencari makan, tetapi ruang hidup yang menyimpan harapan dan doa.
Naaman, panglima besar Aram, adalah sosok berkuasa dan dihormati, tetapi ia menderita kusta — penyakit yang membuatnya tak berdaya.
Kedua buku ini, meski ditulis dari pengalaman jurnalistik, merekam perjalanan eksistensial manusia yang sedang berjuang menjadi bebas dan otentik.
Konsekuensinya, bila badan bisa mengalami sakit, meski bukan hal aneh ketika mental atau jiwa juga mengalami sakit.
Gagasan ini bukan sekadar wacana elitis yang menjauhkan institusi kepolisian dari rakyat, melainkan respons terhadap realitas pahit.
Pendidik sejati tidak mengkotak-kotakkan murid berdasarkan kemampuan, latar belakang, atau kedekatan pribadi.