Opini
Opini: Sungguhkah Paus Leo XIV Yang Dinantikan?
Pesan persatuan itu bahkan terbaca sejak pertama kali Paus Leo XIV tampil di hadapan publik dengan pakaian kepausan dominan berwarna merah.
Karena itu, butuh batasan etika yang unggul untuk memastikan AI menjaga martabat manusia, menghormati kekayaan dan keragaman budaya, kesetaraan dan kesejahteraan.
Dimensi ini masih terasa asing, untuk negara-negara berkembang apalagi yang masih tertinggal. Karena itu, sosok Paus Leo XIV sebagai seorang AS dan sekaligus yang lama berkarya di belahan negara-negara berkembang adalah sosok yang tepat, sekali lagi sebagai jembatan.
Di sinilah tampak dengan jelas semboyan itu, “In Illo Uno Unnum.” Dalam diri Paus Leo XIV banyak harapan yang tengah hidup, yang tampaknya saling bertentangan satu sama lain, seperti proton dan elektron dalam kosmologi atom.
Sungguhkah dia yang dinantikan?
Tentu saja, kita bergantung pada sosok ini, untuk menjaga keseimbangan kosmik, sehingga dunia dan manusia tetap dalam lintasan yang benar, agar tidak terjadi ledakan seperti cerita Sodom dan Gomora, Air Bah, atau Tulah-Tulah pada masa Tuhan sedang marah.(*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Digitalisasi Pendidikan, Artificial Intelligence dan Cognitive Debt |
|
|---|
| Opini: Paradigma Baru Hukum Pidana untuk Lindungi Insinyur dan Marwah APH dari Rekayasa Kasus |
|
|---|
| Opini: Moke - Antara Warisan Budaya, Ekonomi Rakyat dan Negara yang Gamang |
|
|---|
| Opini: Kebebasan Pers dan Siapa yang Berhak Menamai Kebenaran? |
|
|---|
| Opini: Ilusi PAD dan Distorsi Akuntabilitas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Alexander-Yopi.jpg)