Opini
Opini: Sungguhkah Paus Leo XIV Yang Dinantikan?
Pesan persatuan itu bahkan terbaca sejak pertama kali Paus Leo XIV tampil di hadapan publik dengan pakaian kepausan dominan berwarna merah.
Oleh: Alexander Yopi
Alumnus IFTK Ledalero dan Seminari Mataloko, penulis Buku, tinggal di Depok - Jawa Barat
POS-KUPANG.COM - Paus Leo XIV menandai 100 hari kepemimpinannya sebagai pengganti Santo Petrus di Tahta Vatikan pada 16 Agustus 2025 dengan tanpa kontroversi.
Dia jelas menghindari hal itu sejak terbitnya semboyan kepausannya “ In IIlo Uno Unnum.”
Dalam Dia yang satu, kita adalah satu, semboyan itu, menggerakkan Paus pertama dari Amerika Serikat (AS) itu menyurati Kardinal Raymond Burke.
Bersama beberapa Kardinal lainnya, Burke adalah simbol perlawanan yang gigih kaum tradisionalis atas kebijakan karya kepausan mendiang Paus Fransiskus sebelumnya.
Pesan persatuan itu bahkan terbaca sejak pertama kali Paus Leo XIV tampil di hadapan publik dengan pakaian kepausan dominan berwarna merah.
Baca juga: Kesan Fary Francis, Utusan Presiden Prabowo yang Hadiri Langsung Pelantikan Paus Leo XIV di Vatikan
Warna itu merupakan simbol tradisi lama kepausan, yang digunakan paus-paus sebelumnya, namun agaknya ditinggalkan Paus Fransiskus.
Walaupun tidak benar-benar mencerminkan arti sebenarnya, tetapi pembacaan publik atas penampilan Paus Leo XIV yang dominan merah itu mengingatkan pada tradisi kepausan yang layak dipertahankan dan dipegang teguh.
Apalagi, Paus Leo XIV menyetujui perpanjangan waktu pemberian laporan dari kelompok kerja Sinode dari warisan Paus Fransiskus hingga akhir Desember tahun ini.
Kelompok kerja yang diberi tambahan waktu itu harusnya memberi laporan terkait isu krusial dalam pelayanan Gereja Katolik terkait tahbisan diakonat perempuan hingga soal LGBTQ+.
Isu itu merupakan titik berat serangan kaum tradisional Gereja Katolik kepada Vatikan di era Paus Fransiskus, yang membelah arah pastoral dan pemikiran teologis serta dogmatik dalam dua kubu yang keras, yaitu tradisionalis fundamental dan reformis progresif.
Paus Leo XIV bahkan menambahkan dua topik untuk dua kelompok kerja yang berbeda. Dia ingin mendengarkan Sinode berbicara tentang Liturgi dan Peran Konferensi Wali Gereja.
Dua topik ini sekali lagi membawa spekulasi tentang arti kehadiran Paus Leo XIV yang sesungguhnya, yang diinginkan Konklaf pada 8 Mei lalu, yaitu kembali pada penyatuan yang hakiki, tanpa ada kaum tradisional atau progresif.
Walapun demikian, Paus Leo XIV sama sekali tidak meninggalkan jejak Paus Fransiskus. Dia tetap akan meneruskan Sinode tentang Sinodalitas, yaitu cara Paus Fransiskus mendengarkan aspirasi umat Katolik sedunia dan meresponsnya.
Sebagian menginginkan cara itu ditinggalkan karena cenderung menggiring Gereja Katolik meninggalkan ciri khas dan ajaran moral yang sudah dipertahankan bertahun-tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Alexander-Yopi.jpg)