Rabu, 6 Mei 2026

Opini

Opini: Sungguhkah Paus Leo XIV Yang Dinantikan?

Pesan persatuan itu bahkan terbaca sejak pertama kali Paus Leo XIV tampil di hadapan publik dengan pakaian kepausan dominan berwarna merah. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Alexander Yopi 

Oleh: Alexander Yopi
Alumnus IFTK Ledalero dan Seminari Mataloko, penulis Buku, tinggal di Depok - Jawa Barat

POS-KUPANG.COM - Paus Leo XIV menandai 100 hari kepemimpinannya sebagai pengganti Santo Petrus di Tahta Vatikan pada 16 Agustus 2025 dengan tanpa kontroversi.

Dia jelas menghindari hal itu sejak terbitnya semboyan kepausannya “ In IIlo Uno Unnum.”

Dalam Dia yang satu, kita adalah satu, semboyan itu, menggerakkan Paus pertama dari Amerika Serikat (AS) itu menyurati Kardinal Raymond Burke.

Bersama beberapa Kardinal lainnya, Burke adalah simbol perlawanan yang gigih kaum tradisionalis atas kebijakan karya kepausan mendiang Paus Fransiskus sebelumnya.

Pesan persatuan itu bahkan terbaca sejak pertama kali Paus Leo XIV tampil di hadapan publik dengan pakaian kepausan dominan berwarna merah. 

Baca juga: Kesan Fary Francis, Utusan Presiden Prabowo yang Hadiri Langsung Pelantikan Paus Leo XIV di Vatikan

Warna itu merupakan simbol tradisi lama kepausan, yang digunakan paus-paus sebelumnya, namun agaknya ditinggalkan Paus Fransiskus.

BERTEMU STAF VATIKAN - Paus Leo XIV saat bertemu staf di Aula Paolo VI, Vatikan, Sabtu 24 Mei 2025. Pertemuan ini dihadiri kurang lebih 3.000 orang.
BERTEMU STAF VATIKAN - Paus Leo XIV saat bertemu staf di Aula Paolo VI, Vatikan, Sabtu 24 Mei 2025. Pertemuan ini dihadiri kurang lebih 3.000 orang. (POS-KUPANG.COM/HO-PASTOR MARKUS SOLO)

Walaupun tidak benar-benar mencerminkan arti sebenarnya, tetapi pembacaan publik atas penampilan Paus Leo XIV yang dominan merah itu mengingatkan pada tradisi kepausan yang layak dipertahankan dan dipegang teguh.

Apalagi, Paus Leo XIV menyetujui perpanjangan waktu pemberian laporan dari kelompok kerja Sinode dari warisan Paus Fransiskus hingga akhir Desember tahun ini.

Kelompok kerja yang diberi tambahan waktu itu harusnya memberi laporan terkait isu krusial dalam pelayanan Gereja Katolik terkait tahbisan diakonat perempuan hingga soal LGBTQ+.

Isu itu merupakan titik berat serangan kaum tradisional Gereja Katolik kepada Vatikan di era Paus Fransiskus, yang membelah arah pastoral dan pemikiran teologis serta dogmatik dalam dua kubu yang keras, yaitu tradisionalis fundamental dan reformis progresif.

Paus Leo XIV bahkan menambahkan dua topik untuk dua kelompok kerja yang berbeda. Dia ingin mendengarkan Sinode berbicara tentang Liturgi dan Peran Konferensi Wali Gereja.

Dua topik ini sekali lagi membawa spekulasi tentang arti kehadiran Paus Leo XIV yang sesungguhnya, yang diinginkan Konklaf pada 8 Mei lalu, yaitu kembali pada penyatuan yang hakiki, tanpa ada kaum tradisional atau progresif.

Walapun demikian, Paus Leo XIV sama sekali tidak meninggalkan jejak Paus Fransiskus. Dia tetap akan meneruskan Sinode tentang Sinodalitas, yaitu cara Paus Fransiskus mendengarkan aspirasi umat Katolik sedunia dan meresponsnya.

Sebagian menginginkan cara itu ditinggalkan karena cenderung menggiring Gereja Katolik meninggalkan ciri khas dan ajaran moral yang sudah dipertahankan bertahun-tahun. 

Tetapi sebagian lainnya merasa perlu untuk mereformasi wajah gereja dengan mendengarkan aspirasi pastoral dan kondisi riil umat.

Jadi, dengan tidak tampil sebagai pribadi yang kontroversi, Paus Leo XIV menempatkan dirinya lebih sebagai jembatan. 

Dia ingin mengakomodir semua pihak, baik di dalam maupun di luar Gereja Katolik, dari latar belakang politik, sosial, maupun budaya yang berbeda-beda.

Termasuk dia tidak saja tampil dengan bahasa Italia, bahasa resmi kenegaraan Vatikan, tetapi juga berbicara dengan bahasa Spanyol dan Inggris. 

Dia ingin menjangkau semua pihak dengan kemampuan poliglotnya. Seorang Paus, yang akhirnya benar-benar dimengerti ucapannya
tanpa ada jeda waktu.

Dia bertemu dengan Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina dan berbicara hangat dengan Vladamir Putin melalui sambungan telpon. Di saat yang sama, dia terus mengecam perang yang terjadi di Gaza, Sudan, Myanmar, dan Timur Tengah.

Tidak heran, jika dihitung, “damai” merupakan kata yang paling banyak diserukan Paus Leo XIV pada 100 hari pertamanya. 

“Biarkan diplomasi membungkam senjata. Biarkan bangsa-bangsa membentuk masa depan mereka dengan karya-karya perdamaian, bukan melalui kekerasan dan konflik berdarah,” demikian salah satu seruannya untuk perdamaian dunia.

Bersikap terhadap AI

Selain caranya menjembati soal-soal kontroversial ke depan dan merupakan pekerjaan rumah yang diberikan Paus Fransiskus kepadanya, Paus Leo XIV juga membuka spekulasi lain tentang sikap Gereja Katolik ke depan terhadap kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Sinyal itu sudah nampak dari pandangannya pada Konferensi Tahunan Kedua tentang AI yang terjadi di Roma, pada Juni lalu.

Paus Leo XIV berulang kali menekankan soal martabat unik manusia, terutama anak-anak dan kaum muda di hadapan AI. 

“Kita semua, saya yakin, prihatin terhadap anak-anak dan kaum muda, serta kemungkinan konsekuensi penggunaan AI terhadap perkembangan intelektual dan neurologis mereka,” katanya.

Tanpa menafikan AI merupakan produk jenius manusia, Gereja Katolik akan terus terlibat aktif dalam mengawal penggunaan AI semata-mata demi perkembangan integral manusia dan masyarakat.

AI adalah alat, bukan segala-galanya. Alat itu bisa dimanfaatkan secara positif maupun negatif.

Karena itu, butuh batasan etika yang unggul untuk memastikan AI menjaga martabat manusia, menghormati kekayaan dan keragaman budaya, kesetaraan dan kesejahteraan.

Dimensi ini masih terasa asing, untuk negara-negara berkembang apalagi yang masih tertinggal. Karena itu, sosok Paus Leo XIV sebagai seorang AS dan sekaligus yang lama berkarya di belahan negara-negara berkembang adalah sosok yang tepat, sekali lagi sebagai jembatan.

Di sinilah tampak dengan jelas semboyan itu, “In Illo Uno Unnum.” Dalam diri Paus Leo XIV banyak harapan yang tengah hidup, yang tampaknya saling bertentangan satu sama lain, seperti proton dan elektron dalam kosmologi atom.

Sungguhkah dia yang dinantikan? 

Tentu saja, kita bergantung pada sosok ini, untuk menjaga keseimbangan kosmik, sehingga dunia dan manusia tetap dalam lintasan yang benar, agar tidak terjadi ledakan seperti cerita Sodom dan Gomora, Air Bah, atau Tulah-Tulah pada masa Tuhan sedang marah.(*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved