Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Sungguhkah Paus Leo XIV Yang Dinantikan?

Pesan persatuan itu bahkan terbaca sejak pertama kali Paus Leo XIV tampil di hadapan publik dengan pakaian kepausan dominan berwarna merah. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Alexander Yopi 

Tetapi sebagian lainnya merasa perlu untuk mereformasi wajah gereja dengan mendengarkan aspirasi pastoral dan kondisi riil umat.

Jadi, dengan tidak tampil sebagai pribadi yang kontroversi, Paus Leo XIV menempatkan dirinya lebih sebagai jembatan. 

Dia ingin mengakomodir semua pihak, baik di dalam maupun di luar Gereja Katolik, dari latar belakang politik, sosial, maupun budaya yang berbeda-beda.

Termasuk dia tidak saja tampil dengan bahasa Italia, bahasa resmi kenegaraan Vatikan, tetapi juga berbicara dengan bahasa Spanyol dan Inggris. 

Dia ingin menjangkau semua pihak dengan kemampuan poliglotnya. Seorang Paus, yang akhirnya benar-benar dimengerti ucapannya
tanpa ada jeda waktu.

Dia bertemu dengan Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina dan berbicara hangat dengan Vladamir Putin melalui sambungan telpon. Di saat yang sama, dia terus mengecam perang yang terjadi di Gaza, Sudan, Myanmar, dan Timur Tengah.

Tidak heran, jika dihitung, “damai” merupakan kata yang paling banyak diserukan Paus Leo XIV pada 100 hari pertamanya. 

“Biarkan diplomasi membungkam senjata. Biarkan bangsa-bangsa membentuk masa depan mereka dengan karya-karya perdamaian, bukan melalui kekerasan dan konflik berdarah,” demikian salah satu seruannya untuk perdamaian dunia.

Bersikap terhadap AI

Selain caranya menjembati soal-soal kontroversial ke depan dan merupakan pekerjaan rumah yang diberikan Paus Fransiskus kepadanya, Paus Leo XIV juga membuka spekulasi lain tentang sikap Gereja Katolik ke depan terhadap kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Sinyal itu sudah nampak dari pandangannya pada Konferensi Tahunan Kedua tentang AI yang terjadi di Roma, pada Juni lalu.

Paus Leo XIV berulang kali menekankan soal martabat unik manusia, terutama anak-anak dan kaum muda di hadapan AI. 

“Kita semua, saya yakin, prihatin terhadap anak-anak dan kaum muda, serta kemungkinan konsekuensi penggunaan AI terhadap perkembangan intelektual dan neurologis mereka,” katanya.

Tanpa menafikan AI merupakan produk jenius manusia, Gereja Katolik akan terus terlibat aktif dalam mengawal penggunaan AI semata-mata demi perkembangan integral manusia dan masyarakat.

AI adalah alat, bukan segala-galanya. Alat itu bisa dimanfaatkan secara positif maupun negatif.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved