Opini
Opini: Manusia Indonesia yang Merdeka
Jangan pernah melupakan para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa untuk sebuah kemerdekaan.
Apakah kita masih takut untuk berbicara tentang kebenaran dan kebaikan, bahkan sekedar untuk menjadi diri sendiri?
Dan apakah kita mempunyai kecenderungan mencari muka, demi mencari keselamatan duniawi atau kenyaman diri sendiri?
Kita renungkan pertanyaan-pertanyaan ini untuk memaknai hari kemerdekaan RI yang 80 tahun ini, agar euforia perayaan ini menjadi penuh makna, bukan hanya sekadar ritual tahunan yang terus terulang, atau hanya sekedar sukacita lomba makan kerupuk dan balap karung, panjat pinang, dll.
Kedua, tipe orang merdeka yang berspirit Injili yang perlu ditawarkan kepada semua anak bangsa adalah jangan munafik atau bersikap pura-pura.
Kita sebagai anak bangsa harus menjadi orang yang berani atau tidak takut menyatakan kebenaran dan kebaikan, jangan pernah bersikap kompromi terhadap hal-hal yang tidak benar atau tidak baik.
Kedua tipe orang merdeka ini harus menjadi karakter diri kita sebagai warga negara yang merdeka.
Bersikap jujur, tidak takut kepada siapa pun dalam membela kebenaran, tidak munafik atau berpura-pura, tidak menjilat dan tidak mencari muka adalah sifat-sifat Yesus yang diungkapkan oleh orang-orang Farisi yang mencoba menjebaknya.
Sikap-sikap seperti ini yang semakin langka kita temukan di negara kita, baik dari kalangan bawah, menengah, bahkan sampai pada tingkat atas, dalam kehidupan rumah tangga, sekolah, pekerjaan, peradilan sampai pemerintahan.
Sikap-sikap ini sebenarnya cerminan dari salah satu sifat Allah, yaitu “kebenaran”.
Kebenaran seringkali ditutup-tutupi sejauh orang memperoleh keuntungan dari tindakan tersebut.
Tidak jarang juga kita mendapati kebenaran dibungkus dan dipoles sedemikian rupa, diberi bumbu sampai menarik untuk digosipkan, ditayangkan di televisi berulang-ulang setiap hari.
Karena itu, dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke 80, kita diajak untuk menjadi orang Indonesia yang merdeka.
Kita mengisi kemerdekaan itu dengan merenungkan sejauh mana sikap dan tindakan kita selama ini dalam membela kebenaran.
Kebenaran sejati adalah kebenaran yang memerdekakan setiap orang, bukan membelenggu atau menindasnya.
Apakah sebagai anak-anak Allah kita masih kuat bertahan dalam kebenaran sejati?
Mari kita memaknai perayaan 80 tahun Indonesia merdeka dengan hidup dalam kebenaran, sebab kebenaranlah yang memerdekakan kita. Dirgahayu 80 Tahun Indonesia. Ad Multos Annos. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Stephanus-Turibius-Rahmat1.jpg)