Senin, 4 Mei 2026

Opini

Opini: Manusia Indonesia yang Merdeka

Jangan pernah melupakan para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa untuk sebuah kemerdekaan. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI STEPHANUS T RAHMAT
Romo Stephanus Turibius Rahmat 

Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat
Dosen Unika St. Paulus Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Pada tahun 2025, Bangsa Indonesia genap berusia 80 tahun. Usia yang terbilang tidak muda lagi. 

Walaupun dalam ukuran usia manusia tergolong lanjut usia, tetapi bagi sebuah bangsa rentang usia ini kiranya menjadi simbol kedewasaan atau kematangan dalam pelbagai dimensi kehidupan.  

Bangsa Indonesia harus berbangga karena boleh menikmati alam kemerdekaan selama 80 tahun.  

Artinya, kita bebas dari penjajah atau kolonialisme dalam bentuk apapun. 

Kita tidak lagi mengangkat senjata untuk berperang melawan musuh bersama. 

Kita bersyukur atas berkat rahmat Allah yang mahakuasa dan didorong oleh cita-cita luhur bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan. 

Baca juga: Sambut HUT Kemerdekaan RI ke-80, Siswa SDI Meanmane Giat Berlatih Gerak Jalan

Pernyataan ini timbul dari keyakinan bahwa setiap bangsa berhak atas kemerdekaan dan bahwa penjajahan harus dikikis habis dari muka bumi. 

Para founding fathers telah mempertaruhkan segalanya sampai terbentuknya  suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. 

Memori kita sebagai warga yang menikmati kemerdekaan tentu tidak pernah lupa akan jasa-jasa para pahlawan yang gugur memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

80 Tahun : Momentum Refleksi

Pada usia 80 tahun yang  kita rayakan 17 Agustus 2025 tentu bukan hanya seremoni rutin tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi bagi setiap anak bangsa (para pemimpin dan rakyat) untuk melakukan retrospeksi diri, introspeksi diri, dan proyeksi diri. 

Ketiga hal ini perlu kita lakukan karena kalau mau jujur kita sebenarnya belum sungguh-sungguh merdeka dari kemiskinan, disparitas sosial, perilaku ketidakadilan, keterbelakangan dalam pelbagai aspek kehidupan;

Akses pendidikan dan kesehatan yang belum merata, kesenjangan pembangunan, belum merdeka menjalankan kehidupan beragama, belum merdeka dari perilaku radikal, intoleransi, hate speach, hoax, sikap antisosial, dll. 

Karena itu, kemerdekaan dari hal-hal seperti ini harus menjadi komitmen setiap anak bangsa. 

Karena itu, kita perlu meretrospeksi diri supaya tidak hilang dari memori kita akan sejarah panjang perjuangan para pahlawan untuk kemerdekaan Indonesia. 

Jangan pernah melupakan para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa untuk sebuah kemerdekaan. 

Kita perlu mengingat kembali konsensus dan komitmen awal terbentuknya negara Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. 

Kita harus setia  dan teguh berdiri pada empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhineka Tunggal Ika. 

Selain itu, kita juga perlu mengintrospeksi diri untuk mengetahui apa yang menjadi kelemahan, kekurangan dan kekuatan atau kelebihan kita dalam mengisi kemerdekaan selama 80 tahun ini. 

Kesadaran seperti ini yang memampukan kita untuk memproyeksi diri atau merencanakan segala rencana strategis bagi masa depan Indonesia yang lebih baik, berkeadilan, dan bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain. 

Dengan demikian, apa yang menjadi tema perayaan HUT RI yang ke-80 tahun ini "Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju" bisa tercapai dalam semangat  kerjasama yang cerdas dan solid.  

Kita harus bersatu berdaulat supaya terciptanya persatuan yang kokoh. Sebab, bersatu berdaulat menjadi sesuatu yang urgen untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan suatu negara. 

Karena itu,  soliditas antar warga menjadi landasan dalam menciptakan stabilitas nasional. 

Landasan yang kokoh ini adalah juga landasan untuk kedaulatan. Kedaulatan berarti membangun kekuatan sendiri, baik dalam sistem pemerintahan, pertahanan, maupun sumber daya, agar Indonesia tidak mudah bergantung pada pihak asing. 

Selain itu, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar tentu mempunyai harapan yang besar yakni rakyat sejahtera. 

Perayaan 80 tahun ini kiranya menandakan adanya harapan besar terhadap kehidupan masyarakat yang layak dan adil. 

Karena itu, pemerintah dan berbagai pihak harus bekerja sama untuk menurunkan kondisi kemiskinan rakyat dan memperluas akses pendidikan, layanan kesehatan, dan lapangan kerja bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Hal ini tentu ditunjukkan melalui suatu indikator bahwa  kondisi ekonomi rumah tangga (keluarga-keluarga) yang stabil dan harga kebutuhan pokok yang terkendali. 

Lebih dari itu, keadaban kita sebagai warga Indonesia yang semakin luhur dan berkarakter baik. 

Bangsa Indonesia juga harus mempunyai rasa percaya diri bahwa Indonesia menjadi negara maju. Ini menjadi cita-cita yang harus dikejar sejak saat ini. 

Momentum perayaan 80 tahun ini hendaknya mengobarkan api kesadaran bersama bahwa tujuan utama bangsa adalah menjadi negara yang unggul di tingkat global. 

Bagi pemerintah, komitmen menjadi Indonesia Maju harus menjadi tugas bersama untuk secara kontinu memajukan bidang teknologi, mempercepat pembangunan infrastruktur, dan memperkuat daya saing nasional. 

Bagi rakyat, gerakan Indonesia Maju akan terasa cerah untuk dicapai melalui kesempatan belajar dan berkarya yang merata, serta rasa bangga menjadi bagian dari bangsa yang terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Kemerdekaan Injili

Perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI tahun ini bertepatan dengan perayaan hari Minggu Biasa ke-20. 

Bagi orang beriman, kemerdekaan itu suatu rahmat Allah (gabe) sekaligus sebagai suatu tugas atau tanggungjawab (auf gabe). 

Karena itu, sikap yang tepat memaknai kemerdekaan sebagai karunia Allah adalah bersyukur sambil menjalani hidup yang jujur, berani membela kebenaran, dan tidak munafik. 

Sedangkan kemerdekaan sebagai suatu tanggungjawab harus terwujud dalam kerja-kerja nyata atau pengabdian yang tulus demi sebuah bonum commune (kebaikan bersama) dan kemerdekaan sejati. 

Sebab, kita semua dipanggil kepada kemerdekaan sejati. 

Tetapi  janganlah kemerdekaan itu digunakan sebagai kesempatan hidup untuk melampiaskan hawa nafsu, bertindak semewang-wenang karena merasa diri mayoritas di tengah minoritas, bersikap radikal dan intoleran,  melainkan hendaknya kita saling melayani dalam cinta kasih. 

Bersama seluruh anak bangsa, kita merayakan hari kemerdekaan Indonesia dengan suatu tekad agar menjadi manusia Indonesia yang merdeka. 

Karena itu, Gereja dalam spirit pewartaan  Santo  Matius 22 : 15 - 21 mengajak kita untuk memaknai kemerdekaan yang bersifat Injili. 

Penginjil Matius menawarkan jenis atau tipe orang yang merdeka, yakni : Pertama, orang merdeka adalah orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan tidak takut kepada siapapun juga, sebab tidak mencari muka. Apakah kita sudah jujur?  

Seberapa dalam kejujuran kita dan kesetiaan kita dalam mengajarkan dan sekaligus melaksanakan jalan Allah? 

Apakah kita masih takut untuk berbicara tentang kebenaran dan kebaikan, bahkan sekedar untuk menjadi diri sendiri? 

Dan apakah kita mempunyai kecenderungan mencari muka, demi mencari keselamatan duniawi atau kenyaman diri sendiri? 

Kita renungkan pertanyaan-pertanyaan ini untuk memaknai hari kemerdekaan RI yang 80 tahun ini,  agar euforia perayaan ini  menjadi  penuh makna, bukan hanya sekadar ritual tahunan yang terus terulang, atau hanya  sekedar sukacita lomba makan kerupuk dan balap karung,  panjat pinang, dll.  

Kedua, tipe orang merdeka yang berspirit Injili yang perlu ditawarkan kepada semua anak bangsa adalah  jangan munafik atau bersikap pura-pura. 

Kita sebagai anak bangsa harus menjadi orang yang berani atau tidak takut menyatakan kebenaran dan kebaikan, jangan pernah bersikap kompromi terhadap hal-hal yang tidak benar atau tidak baik. 

Kedua tipe orang merdeka ini harus menjadi karakter diri kita sebagai warga negara yang merdeka. 

Bersikap jujur, tidak takut kepada siapa pun dalam membela kebenaran, tidak munafik atau berpura-pura, tidak menjilat dan tidak mencari muka adalah sifat-sifat Yesus yang diungkapkan oleh orang-orang Farisi yang mencoba menjebaknya. 

Sikap-sikap seperti ini yang semakin langka kita temukan  di negara kita, baik dari kalangan bawah, menengah, bahkan sampai pada tingkat atas, dalam kehidupan rumah tangga, sekolah, pekerjaan, peradilan sampai pemerintahan. 

Sikap-sikap ini sebenarnya cerminan dari salah satu sifat Allah, yaitu “kebenaran”. 

Kebenaran seringkali ditutup-tutupi sejauh orang memperoleh keuntungan dari tindakan tersebut. 

Tidak jarang juga kita mendapati kebenaran dibungkus dan dipoles sedemikian rupa, diberi bumbu sampai menarik untuk digosipkan, ditayangkan di televisi berulang-ulang setiap hari.

Karena itu, dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke 80,  kita diajak untuk menjadi orang Indonesia yang merdeka.  

Kita  mengisi kemerdekaan itu dengan merenungkan sejauh mana sikap dan tindakan kita selama ini dalam membela kebenaran. 

Kebenaran sejati adalah kebenaran yang memerdekakan setiap orang, bukan membelenggu atau  menindasnya.  

Apakah sebagai anak-anak Allah kita masih kuat bertahan dalam kebenaran sejati? 

Mari kita memaknai perayaan 80 tahun Indonesia merdeka dengan hidup dalam kebenaran, sebab kebenaranlah yang memerdekakan kita. Dirgahayu 80 Tahun Indonesia. Ad Multos Annos. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved