Opini

Opini: Manusia Indonesia yang Merdeka

Jangan pernah melupakan para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa untuk sebuah kemerdekaan. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI STEPHANUS T RAHMAT
Romo Stephanus Turibius Rahmat 

Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat
Dosen Unika St. Paulus Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Pada tahun 2025, Bangsa Indonesia genap berusia 80 tahun. Usia yang terbilang tidak muda lagi. 

Walaupun dalam ukuran usia manusia tergolong lanjut usia, tetapi bagi sebuah bangsa rentang usia ini kiranya menjadi simbol kedewasaan atau kematangan dalam pelbagai dimensi kehidupan.  

Bangsa Indonesia harus berbangga karena boleh menikmati alam kemerdekaan selama 80 tahun.  

Artinya, kita bebas dari penjajah atau kolonialisme dalam bentuk apapun. 

Kita tidak lagi mengangkat senjata untuk berperang melawan musuh bersama. 

Kita bersyukur atas berkat rahmat Allah yang mahakuasa dan didorong oleh cita-cita luhur bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan. 

Baca juga: Sambut HUT Kemerdekaan RI ke-80, Siswa SDI Meanmane Giat Berlatih Gerak Jalan

Pernyataan ini timbul dari keyakinan bahwa setiap bangsa berhak atas kemerdekaan dan bahwa penjajahan harus dikikis habis dari muka bumi. 

Para founding fathers telah mempertaruhkan segalanya sampai terbentuknya  suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. 

Memori kita sebagai warga yang menikmati kemerdekaan tentu tidak pernah lupa akan jasa-jasa para pahlawan yang gugur memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

80 Tahun : Momentum Refleksi

Pada usia 80 tahun yang  kita rayakan 17 Agustus 2025 tentu bukan hanya seremoni rutin tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi bagi setiap anak bangsa (para pemimpin dan rakyat) untuk melakukan retrospeksi diri, introspeksi diri, dan proyeksi diri. 

Ketiga hal ini perlu kita lakukan karena kalau mau jujur kita sebenarnya belum sungguh-sungguh merdeka dari kemiskinan, disparitas sosial, perilaku ketidakadilan, keterbelakangan dalam pelbagai aspek kehidupan;

Akses pendidikan dan kesehatan yang belum merata, kesenjangan pembangunan, belum merdeka menjalankan kehidupan beragama, belum merdeka dari perilaku radikal, intoleransi, hate speach, hoax, sikap antisosial, dll. 

Karena itu, kemerdekaan dari hal-hal seperti ini harus menjadi komitmen setiap anak bangsa. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved